Bogor, pelitabaru.com – Krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat Kota Bogor. Hal itu terjadi karena daerah berjuluk kota hujan tersebut mengalami kekeringan akibat cuaca kemarau yang melanda Kota Bogor belakangan ini.
Salah satu wilayah yang terdampak, yakni RT04, RW07, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara. Dimana di wilayah tersebut sedikitnya ada 50 kepala keluarga (KK) kesulitan air bersih karena sumber mata air dan sumur mereka mengering.
Merespon hal tersebut, BPBD Kota Bogor bergerak cepat dengan mendistribusikan bantuan air bersih ke lokasi terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan bahwa kejadian ini merupakan laporan pertama mengenai kekeringan yang diterima BPBD di wilayah Kota Bogor pada musim kemarau tahun ini.
“Sementara ini baru satu wilayah yang ditemukan mengalami kekeringan di Kota Bogor,” kata Dimas, Senin (13/7/2026).
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kota Bogor, informasi mengenai kekeringan tersebut diterima melalui aduan masyarakat di media sosial sekitar pukul 09.05 WIB.
Menindaklanjuti laporan tersebut, lima menit kemudian Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) Regu 1 di bawah komando Danru Indra Rustandi langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan.
“Hasil asesmen di lapangan menunjukkan kekeringan terjadi akibat mengeringnya sumber mata air dan sumur warga, sehingga sedikitnya 50 KK terdampak dan membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Setibanya di lokasi, personel TRC-PB melakukan asesmen, pendataan, serta berkoordinasi dengan aparatur Kelurahan Kedunghalang dan pengurus RT/RW setempat guna memastikan kebutuhan warga dapat segera terpenuhi.
“Sebagai langkah tanggap darurat, BPBD Kota Bogor mendistribusikan sekitar 4.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak,” imbuhnya.
BPBD Kota Bogor mengimbau masyarakat agar segera melaporkan apabila terjadi kekeringan atau kesulitan memperoleh air bersih di wilayahnya, sehingga penanganan dapat dilakukan secepat mungkin untuk meminimalkan dampak musim kemarau. (hrs/*)












