Bogor, pelitabaru.com – Deru itu yang menyambut kami pertama kali. Bukan deru mesin, tapi deru air yang mengamuk di sela bebatuan raksasa di bawah Jembatan Ciberang, Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.
Siang itu, Sabtu (31/10/2026), kami memulai sebuah perjalanan yang bukan untuk pendaki Instagram. Ini ekspedisi mencari hulu. Mencari titik nol dimana air yang menghidupi Jawa Barat dan Banten itu dilahirkan.
Tim kami hanya enam orang. Empat wartawan – Fachri Zhofex, Ilham Ariansyah, Andi Ahmad dan Muamarrudin Irfani – dan dua warga lokal sebagai pemegang nyawa kami di hutan, Bapak Ucup dan RT Dodi Sarifudin.
“Tiga jam jalan kaki. Itu kalau tidak hujan,” kata Dodi Sarifudin lirih sebelum berangkat dari pemukiman terakhir Desa Cisarua.
Ia tidak bohong. Ini bukan jalur wisata. Tidak ada plang, tidak ada tali pembatas. Yang ada hanya dinding hutan hujan tropis yang menutup rapat.
Parang di tangan Dodi dan Ucup tak berhenti berayun. Jalur harus kami buka sendiri. Setiap langkah, ranting dan akar melilit kaki.
“Kita lewat jalur pintas. Kalau lewat jalur pipa warga, bisa sembilan kilometer mutarnya,” teriak Dodi di tengah rimbunnya hutan.
Tantangan sebenarnya adalah lereng. Kemiringannya di atas 40 derajat. Tanahnya bukan tanah, tapi pelapukan yang tebal dan labil. Licin seperti sabun. Salah pijakan, kami langsung meluncur ke jurang.
Nafas tersengal. Kaki beberapa kali terpeleset. Tangan mencengkeram akar pohon untuk bertahan hidup. Tiga jam kami naik turun punggungan bukit, tanpa suara selain nafas kami sendiri.
Dan setelah semua siksaan itu, hutan tiba-tiba membuka diri. Di dasar lembah yang sunyi, kami melihatnya. Mukjizat geologis itu.
Air. Begitu jernih, begitu dingin, mengalir dengan konstan dan melimpah. Tak pernah berhenti. Inilah rahimnya. Hulu awal Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciberang.
“Berdiri di titik ini membuat kami sadar betapa pentingnya menjaga kelestarian. Keheningan hutan Sukajaya ini memegang kendali atas air minum, sawah, dan roda ekonomi ribuan masyarakat,” bisik Ilham Ariansyah.
Muamarrudin Irfani tak tahan. Ia menampung air itu dengan kedua tangannya dan langsung meminumnya.
“Segar. Lebih segar dari air kemasan yang kami bawa. Dinginnya menusuk sampai ke dada,” katanya dengan mata berbinar.
Di titik inilah kami mengambil sampel air baku. Air yang nanti akan mengalir ratusan kilometer, menjadi air minum warga, menjadi pengairan sawah menjadi nadi ekonomi dua provinsi.
Ekspedisi ini menyadarkan kami satu hal yang paling mendasar.
Keheningan hutan di Sukajaya ini bukan keheningan kosong. Ia memegang kendali hajat hidup orang banyak di hilir sana.
Setiap pohon yang tumbang di hulu ini, adalah satu tetes air yang hilang di rumah warga. Setiap jengkal hutan yang dibabat adalah ancaman kekeringan bagi ribuan petani.
Menjaga hulu tersembunyi ini tetap lestari bukan lagi pilihan. Ini adalah keharusan. Ini adalah komitmen hidup mati. Jika hulu ini mati, maka Ciberang mati. Jika Ciberang mati, maka kita semua kehausan. (Fex)












