Dari Sawah ke Pasar, Festival Kali Maro Jadi Ruang Uji Pasar Nona Merauke

oleh
banner 468x60

Merauke, pelitabaru.com — Bagi Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University 2026, Festival Kali Maro bukan sekadar perayaan budaya dan pariwisata. Kehadiran ratusan pelaku UMKM di dalamnya menjadi kesempatan untuk mempertemukan produk lokal dengan konsumen secara langsung, termasuk beras premium Nona Merauke.

Festival yang berlangsung pada 1–5 Oktober 2026 di Pantai Arafura, Desa Urum, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, tersebut menghadirkan berbagai produk masyarakat. Tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat Festival Kali Maro dan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang digagas Kementerian Pariwisata.

banner 336x280

Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University memanfaatkan ruang tersebut untuk memperkenalkan sekaligus menjual langsung produk beras premium Nona Merauke kepada pengunjung.

Anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, Putri Valentine, S.P., mengatakan kehadiran produk di festival menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana konsumen merespons beras lokal premium.

“Kalau produk hanya dipasarkan melalui satu jalur, kita akan sulit mengetahui respons konsumen secara langsung. Di festival ini, pengunjung bisa melihat produknya, bertanya, kemudian memutuskan sendiri apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya, Senin (5/10/2026).

Menurut Putri, pengalaman konsumen ketika melihat produk secara langsung menjadi masukan penting dalam pengembangan strategi pemasaran Nona Merauke. “Dari sini kita bisa belajar banyak, misalnya bagaimana konsumen melihat kemasan, bagaimana mereka mengenali produk, sampai apa yang membuat mereka tertarik untuk membeli. Hal-hal seperti itu penting untuk pengembangan produk ke depan,” ungkapnya.

Putri menilai pengembangan beras premium tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Identitas, kemasan, informasi produk, dan cara memperkenalkannya kepada konsumen juga menjadi bagian dari proses membangun nilai tambah.

“Beras premium harus punya cerita dan identitas yang kuat. Nona Merauke membawa identitas Merauke, sehingga itu bisa menjadi kekuatan ketika produk dikembangkan ke pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Anggota Tim 5 lainnya, Hafiz Septio Rhynanda, S.Tr.P., melihat festival sebagai bagian dari mata rantai yang menghubungkan produksi dengan pasar. “Di hulu ada petani yang menghasilkan gabah, kemudian ada RMU yang mengolahnya menjadi beras. Setelah itu kita membutuhkan pasar. Festival seperti ini menjadi salah satu ruang yang mempertemukan produk hasil pengolahan dengan konsumen,” tuturnya.

Menurut Hafiz, hubungan tersebut perlu diperkuat menjadi kelembagaan ekonomi yang lebih terstruktur. “Kalau pasar sudah mulai terbentuk, hubungan antara petani dan RMU juga harus diperkuat. Jangan sampai produk berkembang, tetapi bahan bakunya tidak tersedia atau petaninya tidak mendapatkan manfaat yang sepadan,” ujarnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan tujuan Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University dalam mendorong penguatan rantai nilai dan ekosistem bisnis padi di Merauke.
Produk premium memberikan peluang untuk melakukan diversifikasi. Gabah yang dihasilkan petani tidak hanya diarahkan ke satu jenis pasar, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dengan segmen dan nilai ekonomi yang berbeda.

Festival Kali Maro menjadi salah satu contoh ruang yang dapat digunakan untuk menguji pendekatan tersebut. Produk dipertemukan langsung dengan konsumen, sementara pelaku usaha dapat memperoleh gambaran mengenai respons pasar.

Romo Andreas Panobi dalam sekapur sirihnya berharap Festival Kali Maro dapat terus berlanjut dan menjadi momentum untuk membangun persatuan, mengangkat martabat Suku Marin, sekaligus meningkatkan peluang ekonomi masyarakat.

Harapan tersebut sejalan dengan keberadaan ratusan UMKM yang ikut mengambil bagian dalam festival. Produk lokal tidak hanya menjadi pelengkap acara, tetapi menjadi salah satu bagian penting dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat.

Bagi Nona Merauke, kehadiran di Festival Kali Maro menjadi langkah kecil untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Dari interaksi langsung tersebut, produk dapat terus diperbaiki sekaligus dikembangkan menuju pasar yang lebih luas.

Dengan demikian, festival bukan hanya menjadi tempat untuk menjual produk dalam lima hari kegiatan. Lebih jauh, ruang tersebut dapat menjadi bagian dari proses membangun pasar, membaca kebutuhan konsumen, dan memperkuat kelembagaan ekonomi yang menopang keberlanjutan bisnis padi di Merauke. (adi/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *