Beras Apek, Warga Minta Bulog Klarifikasi

oleh
banner 468x60

Bogor, pelitabaru.com – Viral video berdurasi pendek yang viral mempertanyakan beras bansos berwarna kusam, beraroma apek, jika dimasak menjadi nasi terasa seperti berpasir halus. “Ini beras tahun berapa?,” demikian nasari singkat dalam video viral di media sosial tersebut.

Menanggapi itu, Yayat Setiawan, Ikatan Komunitas Kawasan Puncak dan Sekitarnya (IKKPAS) membenarkan Beras bantuan sosial (bansos) bau apek berwarna kusam yang dibagikan kepada Keluarga Penerima Manfaat perlu diklarifikasi oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog).

banner 336x280

“Memang betul itu. Coba Bulog jangan distribusikan beras begitu kpd masyarakat, mentang2 gratis bantuan buat pakir miskin. banyak yang mengeluhkan keberadaan Beras Bansos itu memang tdk layak untuk di konsumsi. Tapi apalah daya bagi masyarakat miskin memang sangat membuntuhkan daripada tdk makan,” tulisnya di WAG Forum Warga Bogor, Sabtu (26/9/2026).

Beras 30 kilogram untuk periode Juli hingga September 2026 yang merupakan akumulasi untuk tiga bulan tersebut diduga berkualitas rendah berwarna kusam, beraroma apek (gabah lembab), dan setelah dimasak beras bansos tersebut memiliki rasa seperti berpasir halus dan masih beraroma gabah lembab.

Mang Ncep, warga Kampung Babakan Madang, mengungkapkan tidak sedikit kaum ibu – ibu yang berkeluh kesah setelah menerima beras bansos yang diduga kualitasnya rendah. “Kita mah bersyukur kebagian beras bansos, tapi jujur saja warga juga kecewa karena berasnya bau apek. Itu beras kapan ya?,” tanyanya, Sabtu (26/9/2026).

Ia mengakui beras bansos yang sudah dimasak menjadi nasi terasa berpasir halus saat dimakan. Ini yang harus ditanya jujur itu Bulog bukan Pemdes. “Sebab, terasa dilidah seperti berpasir halus, bau apek juga ga hilang. Tapi, karena beras menjadi kebutuhan pokok ya mau ga mau tiap hari dimasak untuk sehari – hari,” ujarnya.

Sebagai pembanding, awal media melakukan penelusuran ke desa lainnya. “Warga di kampung sini kecewa setelah menerima beras bansos yang warnanya kusam meski sudah dicuci bersih masih tercium bau apek dan kusam. Setelah beras itu dimasak rasanya juga aneh seperti ada pasir – pasir halus,” ucap ilah, warga Desa Karang Tengah RT 03/04, Sabtu (26/9/2026).

Ia mengatakan, bukannya keluarga penerima manfaat tidak bersyukur telah mendapat beras gratis dari pemerintah, akan tetapi mengapa periode ini kualitas beras bansos yang dibagikan sangat rendah dan tidak layak dikonsumsi. “Kita minta Bulog Jujur itu beras jenis apa dan sejak kapan dipanennya?,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Babakan Madang, Deni Nugraha, mengatakan beras bansos pembagian Bulog periode Juli hingga September 2026 telah dibagikan kepada seluruh keluarga penerima manfaat yang tersebar di lima RW yang meliputi dusun Babakan Madang Kaum, Banceuy, Malimping, dan Cicadas.

Ia terkejut mendapat laporan kualitas beras bansos apek. Pasalnya, pihak desa fokus pada pembagian yang antriannya sampai berjubel. “Waduh itu mah harus ditanya ke Dinsos atau Bulog. Kalau desa hanya membagikan sesuai dengan data dari dinsos setiap keluarga penerima manfaat harus menunjukan KTP asli suami/istri dan KK,” imbuhnya, Sabtu (26/9/2026).

Untuk diketahui, Kegembiraan ribuan keluarga penerima manfaat (KPM) berubah menjadi kekecewaan usai membawa pulang bantuan sosial (bansos) beras 30 kilogram untuk periode Juli hingga September 2026. Pasalnya, bansos beras tersebut didiga berkualitas rendah. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *