Malang, pelitabaru.com – Inovasi sains dan teknologi menyapa Desa Sumberdem, Kabupaten Malang. Limbah kulit kopi yang selama ini terbuang, kini disulap menjadi sumber energi bersih melalui teknologi biodigester.
Inovasi tersebut dihadirkan oleh Tim Revolusi Kopi dari IPB University dan Universitas Negeri Malang (UM) dalam kegiatan instalasi dan pelatihan biodigester, Sabtu (20/09/2026).
Teknologi biodigester ini memanfaatkan kulit kopi dan kotoran ternak sebagai bahan baku biogas, sekaligus menghasilkan bioslurry yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk pertanian.
Kepala Desa Sumberdem, Purwati, menyambut baik program tersebut. Ia berharap inovasi ini tidak hanya seremonial, tetapi berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga.
“Kami berharap kegiatan Revolusi Kopi tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat Sumberdem,” ujarnya dala keterangan tertulis diterima pada, Senin 21 September 2025
Pemerintah Desa Sumberdem juga menaruh harapan besar pada pengembangan teknologi digital. Melalui program ini, kopi Sumberdem akan didorong memiliki ketertelusuran digital (digital traceability) sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing.
“Kami juga berharap Sumberdem menjadi desa yang melek teknologi. Melalui ketertelusuran digital, kopi Sumberdem nantinya dapat semakin dikenal,” lanjut Purwati.
Sementara itu, Sekretaris LPPM Universitas Negeri Malang, Dr. Hary Suswanto, menegaskan Revolusi Kopi adalah kelanjutan kolaborasi yang telah dibangun antara UM dan Desa Sumberdem melalui inisiator M. Aris Purwanto, PhD.
Program ini semakin kuat dengan bergabungnya IPB University dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendekatkan hasil riset ke kebutuhan nyata masyarakat.
Dukungan juga datang dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si, M.Si, mengapresiasi kolaborasi multipihak yang terbangun.
Menurutnya, pendekatan living lab harus menempatkan masyarakat bukan sekadar penerima teknologi, tetapi mitra dalam mengidentifikasi masalah dan mencari solusi.
“Bapak-Ibu jangan sungkan menyampaikan kalau ada masalah di lapangan. Sampaikan kepada tim IPB dan UM. Justru dari persoalan-persoalan itulah kita dapat mencari solusi bersama melalui sains dan teknologi,” pesan Prof. Yudi.
Revolusi Kopi sendiri merupakan bagian dari Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek), inisiatif Kemdiktisaintek bersama LPDP. Pada periode 2025–2026, sebanyak 122 tim periset terpilih sebagai penerima program tersebut.
Ketua Tim Revolusi Kopi dari Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University, Dr. Ir. Yessie Widya Sari, menjelaskan program ini dirancang bukan sekadar transfer teknologi.
“Melalui Revolusi Kopi, kami berharap dapat membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan, tetapi solusinya benar-benar lahir, diuji, dan dikembangkan bersama masyarakat,” ujarnya.
Pada implementasinya, teknologi yang diperkenalkan adalah biodigester tipe kantong (bag digester) yang sederhana, portabel, dan mudah dipelihara. Instalasi dilakukan dengan dukungan su-re.co (Sustainability & Resilience), organisasi berbasis di Bali yang fokus pada solusi keberlanjutan.
Konsep ini menunjukkan ekonomi sirkular nyata di tingkat desa, residu kopi dan peternakan yang semula limbah, menjadi sumber energi, dan hasil sampingnya kembali menjadi pupuk.
Program Revolusi Kopi melibatkan kolaborasi multipihak antara IPB University, UM, Pemerintah Desa Sumberdem, BUMDes, kelompok tani, media, serta mitra swasta seperti su-re.co dan Raigine.
Ke depan, pembelajaran dari biodigester akan diintegrasikan dengan penguatan digital traceability, kelembagaan, dan pengembangan ekonomi sirkular, sehingga Sumberdem tak hanya dikenal sebagai desa penghasil kopi, tetapi sebagai living lab desa mandiri dan berkelanjutan. (Fex)












