Tingkatkan Produksi Padi, Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University Latih Petani Merauke

oleh
banner 468x60

Merauke, pelitabaru.com – Petani perlu mengenali penyebab gangguan pada tanaman sebelum menentukan tindakan pengendalian.

Perubahan warna tanaman, pertumbuhan yang terhambat, hingga kerusakan pada daun dan batang tidak selalu disebabkan oleh hama atau penyakit tertentu.

banner 336x280

Kesalahan mengenali penyebab dapat membuat pengendalian tidak efektif dan justru meningkatkan penggunaan input di lahan.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam pelatihan “Penguatan Kapasitas Petani dalam Pengendalian Hama Penyakit Padi Berkelanjutan” yang dilaksanakan oleh Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University yang diketuai oleh Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E.,M.Si di Balai Kampung Yasa Mulya (SP2), Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sedikitnya 100 petani dari sejumlah kampung di Distrik Tanah Miring. Pelatihan menghadirkan Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, M.Si., dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Dr. Swastiko mengajak petani melihat gangguan tanaman secara lebih menyeluruh sebelum menentukan cara pengendaliannya.

Menurut Dr. Swastiko, gangguan pada tanaman padi dapat berasal dari faktor biotik maupun abiotik. Faktor biotik antara lain hama, penyakit, dan gulma, sedangkan faktor abiotik dapat berkaitan dengan kondisi iklim maupun lingkungan tempat tanaman tumbuh.

“Jadi jangan setiap tanaman menunjukkan gejala tertentu langsung dianggap karena hama atau penyakit. Kita harus melihat penyebabnya terlebih dahulu,” jelas Dr. Swastiko dalam sesi pelatihan.

Petani kemudian diperkenalkan dengan berbagai hama utama tanaman padi, mulai dari wereng cokelat, wereng hijau, penggerek batang padi, walang sangit, ganjur, hama putih palsu, kepinding tanah, ulat, keong emas, tikus sawah, hingga burung pemakan bulir padi.

Selain hama, Dr. Swastiko juga menjelaskan sejumlah penyakit tanaman padi seperti blas, hawar bakteri, tungro, kerdil hampa, kerdil rumput, dan pucuk putih. Setiap gangguan memiliki gejala dan karakteristik yang berbeda sehingga tindakan pengendaliannya pun perlu disesuaikan.

Ia juga mengingatkan petani agar tidak menjadikan pestisida sebagai satu-satunya pilihan pengendalian. Penggunaan bahan kimia secara berlebihan dapat menimbulkan persoalan baru. Salah satunya meningkatkan risiko resistensi hama terhadap bahan pengendali tertentu.

Gejala Kuning dan Merah Tidak Selalu Tungro

Penjelasan tersebut kemudian menjadi semakin relevan ketika petani menyampaikan persoalan yang mereka alami langsung di lahan.

Supriyanto dari Kampung Yasa Mulya menceritakan kondisi tanaman padi pada musim tanam pertama yang mengalami perubahan warna menjadi kuning dan merah.

Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, tetapi belum memberikan hasil yang diharapkan. “MT 1 saat banyak air padi kebanyakan kuning dan merah. Sudah diobati pakai fungisida, tetapi tidak berpengaruh. Setelah dicabut ternyata akarnya kosong,” ungkap Supriyanto.

Kasus tersebut menjadi salah satu contoh bahwa gejala yang terlihat pada bagian atas tanaman belum tentu menunjukkan penyebab sebenarnya.

Tanaman yang menguning atau memerah, misalnya, tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tungro atau penyakit tertentu tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Doki Efendi, salah satu anggota sekaligus koordinator lapang Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, mengatakan identifikasi menjadi tahap penting sebelum menentukan tindakan pengendalian.

“Petani perlu memahami bahwa gejala kuning atau merah pada tanaman padi tidak selalu berarti tungro atau penyakit tertentu. Bisa saja terdapat faktor lain yang perlu diperiksa, termasuk kondisi tanah dan air serta unsur yang terdapat di dalamnya,” jelas Doki.

Menurut Doki, dugaan terhadap kondisi seperti pirit maupun persoalan tanah dan air juga tidak dapat langsung dijadikan kesimpulan. Diperlukan pemeriksaan terhadap tanaman, akar, tanah, air, dan kondisi lingkungan untuk memastikan penyebab gangguan secara lebih tepat.

Laila salah satu anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University yang lainnya menguraikan masalah lainnya, “Persoalan serupa turut muncul dalam diskusi bersama petani Kampung Yabamaru. Ahyadi menyampaikan dugaan adanya persoalan kualitas air dan kondisi tanah yang dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman. Sementara Ahmad Saepul mempertanyakan kondisi tanah setelah penggunaan pupuk urea dan NPK serta pentingnya keseimbangan pemupukan,” ungkap Laila.

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Swastiko menekankan pentingnya mengamati tanaman tidak hanya dari bagian daun atau batang yang terlihat.

Kondisi akar, pola pertumbuhan, tanah, air, riwayat budidaya, hingga kondisi lingkungan perlu diperhatikan sebagai bagian dari proses identifikasi.

Tidak Hanya Mengandalkan Pestisida

Pengendalian hama juga tidak selalu harus dilakukan dengan bahan kimia. Dalam pelatihan tersebut, petani diperkenalkan dengan konsep pengendalian yang memanfaatkan organisme yang secara alami dapat menekan populasi hama.

Putri salah satu anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University menyampaikan bahwa terdapat beberapa predator di lapangan.

“Sejumlah predator seperti belalang sembah, kumbang kubah, kumbang tanah, tomket, kepik pemburu, dan capung diperkenalkan sebagai bagian dari musuh alami yang dapat membantu mengendalikan hama di ekosistem persawahan,” ujar Putri.

Selanjutnya, Wilda Rosidah, anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, mengatakan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas petani tidak hanya berbicara tentang pemberian informasi, tetapi juga membangun ruang belajar bersama antara akademisi dan petani.

“Pelatihan ini tidak bermaksud menggurui bapak-ibu petani sekalian. Tapi merupakan ajang saling bertukar pikiran dan saling mengingatkan bagaimana ilmu pengetahuan yang terus berkembang harus cepat diadaptasi oleh akademisi dan petani,” ujar Wilda.

Kepala Kampung Yasa Mulya, Supriyanto, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, persoalan hama dan penyakit yang dihadapi petani membutuhkan pengetahuan baru agar penanganannya tidak hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya.

“Kami menyambut baik kegiatan pelatihan ini untuk menambah pengetahuan baru bagi kami. Kami optimis ada problem yang bisa kita selesaikan dengan IPTEK, khususnya di bidang hama dan penyakit,” tutur Supriyanto.

Anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, Hafiz Rhynanda menyampaikan bagi Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, peningkatan kemampuan petani dalam mengenali gangguan tanaman merupakan bagian dari upaya memperkuat produksi padi di tingkat hulu.

“Petani diharapkan tidak hanya mengetahui jenis hama dan penyakit, tetapi juga mampu mengamati gejala, mengenali kemungkinan penyebab, dan menentukan langkah pengendalian yang lebih tepat” kata Hafiz.

Diskusi yang hangat dan berisi terjadi selama berlangsungnya pelatihan. Pelatihan tersebut sekaligus menjadi tindak lanjut dari Focus Group Discussion (FGD) “Analisis Rantai Nilai dalam Penguatan Ekosistem Bisnis Beras Lokal Merauke” yang dilaksanakan Tim 5 pada 29 Agustus 2026.

Penguatan kapasitas petani dalam menjaga produktivitas dan kualitas produksi menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem bisnis beras yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir. (adi)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *