Merauke, Pelitabaru.com – Modernisasi pertanian menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usahatani padi di Kabupaten Merauke. Upaya tersebut mulai diwujudkan melalui kolaborasi antara pelaku usaha, akademisi, TNI, dan petani dalam pemanfaatan teknologi pertanian modern berupa Drone Agras (DJI Agras) untuk penyemprotan pupuk dan insektisida di lahan sawah.
Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University yang di ketuai oleh Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si menjalin kolaborasi lintas sektor melibatkan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI), petani, pemerintah daerah, TNI dan akademisi. Penerapan Drone Agras dilakukan pada lahan sawah seluas 3 hektare milik petani Margono dengan menggunakan drone Agras berkapasitas 20 liter.
Pemanfaatan drone menunjukkan perbedaan efisiensi yang signifikan dibandingkan penyemprotan menggunakan sprayer manual. Berdasarkan pengalaman di lapangan, untuk penyemprotan satu hektare lahan sawah menggunakan drone Agras 20 liter dibutuhkan sekitar dua tangki, dengan waktu pengerjaan kurang dari 20 menit. Sementara itu, penyemprotan secara manual membutuhkan sekitar 20 tangki per hektare dengan waktu pengerjaan yang dapat mencapai empat jam.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa mekanisasi berbasis drone berpotensi menghemat waktu dan tenaga dalam kegiatan budidaya padi, khususnya pada lahan dengan luasan yang relatif besar. “Drone ini sangat menghemat tenaga, air yang digunakan, pupuk, dan obat-obatan,” ujar Margono setelah kegiatan penyemprotan, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, penggunaan drone juga memberikan keuntungan dari sisi proses aplikasi input pertanian. Penyemprotan dapat dilakukan secara lebih terukur sehingga penggunaan pupuk dan pestisida dapat ditekan dibandingkan dengan metode manual.
Hal senada disampaikan petani lainnya, Heru Riyan Saputra. Menurutnya, penggunaan teknologi penyemprotan dengan drone berpotensi mengurangi akumulasi residu pupuk dan obat-obatan yang tidak terserap tanaman di lahan. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan lahan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Teknologi Menjawab Tantangan Luas Lahan Petani Merauke

Pemanfaatan teknologi drone menjadi semakin relevan dengan karakteristik usaha tani di Merauke. Adrian Simanullang selaku pengusaha rice milling unit (RMU) di Merauke berharap, semakin banyak petani yang memiliki kemampuan mengoperasikan dan memanfaatkan drone Agras untuk mendukung pengelolaan lahan sawah mereka.
Menurut Adrian, luasan lahan yang dikelola petani di Merauke relatif besar. Sebagian petani mengelola lahan sekitar 2–4 hektare, bahkan terdapat petani yang memiliki lahan hingga 10 hektare. Kondisi tersebut membuat mekanisasi menjadi kebutuhan penting agar seluruh tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, penyemprotan, pemanenan, hingga pascapanen dapat dilakukan secara lebih efisien.
“Kalau lahan yang dikelola cukup luas, tentu akan sulit jika seluruh proses masih mengandalkan tenaga manual. Kita membutuhkan peralatan dan teknologi yang mampu membantu petani mengelola lahan secara lebih optimal,” ujar Adrian.
Namun, penerapan teknologi pertanian modern tidak hanya membutuhkan perangkat dan keterampilan operator. Doki Efendi, salah satu anggota sekaligus sebagai koordinator lapang Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, menilai bahwa pemanfaatan drone juga harus didukung oleh infrastruktur pertanian yang memadai, khususnya jalan usaha tani menuju lahan persawahan.
Menurut Doki, drone Agras memiliki bobot yang berat sehingga membutuhkan kendaraan untuk membawanya menuju lokasi persawahan. Persoalan tersebut menjadi semakin penting mengingat sebagian lahan sawah di Merauke berada pada karakteristik rawa lebak dan rawa pasang surut.
Selanjutnya, Laila, sebagai salah satu Anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University berpendapat bahwa pada musim hujan, jalan usaha tani yang belum memiliki pengerasan memadai berpotensi menjadi berlumpur dan sulit dilalui kendaraan. Kondisi tersebut dapat menghambat mobilisasi peralatan modern, termasuk drone, menuju lahan sawah.
“Pemanfaatan drone Agras perlu didukung dengan infrastruktur jalan usaha tani yang memadai. Drone tidak mungkin dibawa ke lahan hanya dengan berjalan kaki, apalagi bobot perangkat dan perlengkapannya cukup berat. Jika akses menuju lahan berlumpur pada musim hujan, mobilisasi drone menjadi tantangan tersendiri bagi petani,” jelas Laila.
Mendorong Sekolah Drone bagi Petani

Kolaborasi penggunaan drone tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat dipadukan dengan pengetahuan lokal dan pengalaman petani untuk meningkatkan efisiensi usaha tani. Ke depan, para pihak berharap pemanfaatan teknologi tersebut dapat diperluas kepada lebih banyak petani di Kabupaten Merauke.
Wilda salah satu anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University berpendapat bahwa Salah satu gagasan yang muncul adalah pembentukan sekolah drone bagi petani Merauke. “Sekolah tersebut diharapkan menjadi wadah pembelajaran bagi petani dan operator lokal untuk memahami pengoperasian, perawatan, serta pemanfaatan drone secara tepat dalam kegiatan pertanian,” ungkap Wilda.
Lebih lanjut Haifz Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University menyampaikan Penguasaan teknologi oleh petani dinilai penting agar modernisasi pertanian tidak hanya berhenti pada penyediaan alat, tetapi juga diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. “Dengan kemampuan tersebut, petani dapat menentukan penggunaan teknologi sesuai kebutuhan lahan dan tahapan budidaya” Kata Hafiz.
Bagi Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, pemanfaatan teknologi pertanian merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem agribisnis padi yang lebih efisien. Mekanisasi dan digitalisasi pertanian perlu berjalan beriringan dengan penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas petani, serta pembangunan infrastruktur pendukung.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Adrian Simanullang selaku pengusaha rice milling unit (RMU), Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University yang di ketuai oleh Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., sebagai unsur akademisi, Margono dan Heru Riyan Saputra sebagai petani, serta Ronald dari unsur TNI.
Sebagai penutup, Putri sebagai salah satu anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University mengungkapkan harapannya kiranya melalui kolaborasi antara petani, pelaku usaha, akademisi, dan TNI, pemanfaatan drone diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pertanian padi Merauke yang semakin modern, efisien, dan berdaya saing.
“Pada akhirnya, efisiensi tenaga dan biaya input produksi diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas serta pendapatan petani di Kabupaten Merauke,” ujar Putri dengan penuh optimis. (adi/*)












