Jakarta, Pelita Baru
Guna menjamin ketersediaan pasokan energi nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan, untuk membuka opsi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari negara mana pun. Langkah itu diambil sebagai strategi menghadapi ketatnya persaingan pengadaan energi di pasar global yang semakin dinamis.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak akan bersikap terlalu selektif terhadap negara asal pemasok di tengah tingginya kebutuhan domestik. Menurutnya, prioritas utama saat ini memastikan ketersediaan fisik BBM untuk masyarakat dan industri tetap terjaga.
“Kalau sudah jadi saya akan kabari ya. Tapi sekarang adalah kita dalam posisi seperti ini selalu membuka opsi dari negara mana saja. Jadi jangan kita milih-milih sekarang. Kita dari negara mana aja yang penting ada,” ujar Bahlil Lahadalia melalui keterangan resmi, Senin (6/4/2026).
Untuk itu, Bahlil menegaskan, bahwa kondisi pasar energi internasional saat ini menuntut fleksibilitas tinggi. Ia mengungkapkan, kontrak atau tender pembelian tidak selalu menjamin pengiriman barang jika ada pihak lain di pasar global yang sanggup memberikan penawaran harga lebih tinggi.
Oleh karena itu, diversifikasi sumber pasokan energi menjadi kunci agar distribusi nasional tidak terganggu.
Selain BBM, pemerintah juga melakukan penyesuaian signifikan pada sumber impor LPG dan minyak mentah. Untuk pasokan LPG, Indonesia mulai mengalihkan sebagian sumber dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dan Australia.
Sementara untuk minyak mentah, pemerintah mulai melirik negara-negara di kawasan Afrika seperti Angola dan Nigeria sebagai alternatif. “Strategi itu dinilai penting agar distribusi BBM nasional tidak terganggu di tengah kompetisi pembelian antarnegara,” tambah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor, Menteri ESDM juga memastikan bahwa program Biodiesel 50 persen (B50) akan segera diimplementasikan secara resmi.
Setelah melalui masa uji coba selama hampir enam bulan pada berbagai moda transportasi dan alat berat, program itudijadwalkan mulai berlaku pada pertengahan tahun ini. “Dan 1 Juli mulai diterapkan implementasi B50,” tegas Bahlil Lahadalia.
Terkait bahan bakar pesawat (avtur), Bahlil mengatakna, harga yang dipasarkan oleh PT Pertamina (Persero) masih jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, meskipun tengah mengalami kenaikan akibat gejolak pasar global.
“Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain, khususnya tetangga, kita masih jauh lebih kompetitif,” ujar Bahlil.
Bahlil mengatakan, tren kenaikan itu tidak terhindarkan karena lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Mengingat avtur Indonesia juga melayani maskapai internasional, penetapan harganya harus mengikuti mekanisme pasar global.
“Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme yang terjadi adalah mekanisme pasar,” kata Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Kondisi itu selaras dengan peringatan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol. Pasalnya, IEA mencatat, krisis bahan bakar avtur dan diesel akibat konflik Timur Tengah mulai melanda Asia dan diprediksi akan mencapai Eropa pada akhir April atau awal Mei 2026.
Data IEA menunjukkan volume minyak yang hilang pada April diperkirakan akan dua kali lebih besar dibandingkan bulan Maret.
Fatih Birol memperingatkan, situasi itu berpotensi memicu inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi global, terutama bagi negara berkembang yang memiliki keterbatasan devisa.
Pemerintah terus memantau pergerakan harga energi global guna memastikan stabilitas pasokan dan daya saing harga di dalam negeri tetap terjaga di tengah ketidakpastian situasi geopolitik dunia.
Berdasarkan data yang dipaparkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada keterangan pers Senin (6/4/2026), harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang per 1 April 2026 tercatat sebesar Rp23.551 per liter.
Angka itu relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan Thailand yang mencapai Rp29.518 per liter dan Filipina sebesar Rp25.326 per liter. (fex/*)












