Situs yang Terbengkalai di Kota Pusaka

Bogor, Pelitabaru.com

Kegiatan Prakongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang diselenggarakan pada Senin 29 Maret 2021 lalu di Aceh akan menjadi titik awal sejarah baru bagi Kota Bogor. Pasalnya, hasil kegiatan tersebut menyepakati bahwa Kota Bogor akan menjadi tuan rumah pelaksanaan acara yang identik dengan pelestarian peninggalan dan sejarah Bangsa Indonesia.

Kongres JKPI sendiri akan dilakasanakan di Kota Bogor pada tanggal 25 Oktober 2021 mendatang yang merupakan hari lahir JKPI pada 13 tahun silam di Kota Solo, 25 Oktober 2008.

Semua mata akan tertuju pada Kota yang pernah ditulis oleh Scidmore sebagai kepingan surga yang tertinggal di Bumi oleh Tuhan. Terjaringnya Kota Bogor ke dalam JKPI juga bukan tanpa sebab. Sejak tahun 2012 Kota Bogor terdaftar sebagai anggota JKPI karena dinilai memiliki berbagai aktivitas pelestarian peninggalan sejarah.

Bahkan, Kota Bogor dapat dikatakan sebagai kota yang beruntung ketika berbicara sebagai kota yang memiliki berbagai peninggalan masa lalu. Mengapa? Karena Bogor menjadi salah satu kota yang memiliki kisah sejarah sejak zaman kerajaan, kolonial hingga pascakemerdekaan. Dan, keberuntungan itu bukan hanya disisakan melalui kisah, melainkan banyak peninggalan yang masih ada meski tidak banyak yang mengira.

Coba saja Anda melakukan perjalanan di sekitar Batu Tulis, Anda akan menemui berbagai peninggalan batu yang mengisahkan kejayaan masa lalu. Tidak hanya itu, rumah-rumah bergaya arsitektur Eropa juga dapat Anda temukan di kawasan Surya Kencana, Sempur, Taman Kencana, Jalan Djuanda hingga Mawar yang juga dikenal dengan sebutan Kota Paris. Bahkan, warga Kota Bogor juga patut bangga karena Tentara Nasional Indonesia generasi pertama dididik di Kota Hujan ini. Termasuk Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Melihat segala potensi dan kegiatan besar yang akan menjadi tonggak sejarah bagi kota yang pernah dilukis oleh Pelukis asal Belgia yang juga gurunya Raden Saleh A. J. Payen yang melukiskan keindahan Buitenzorg dari Hotel Bellevue ini, Pelita Baru mencoba menelusuri berbagai situs-situs bersejarah di Kota Bogor. Pada hari Jumat (2/4/2021) Tim Pelita Bogor memulai perjalanan dari Lawang Gintung di Batu Tulis yang syarat akan peninggalan Kerajaan Padjadjaran. Namun, hasil penelusuran belum bisa menjawab ekspektasi besar dari Kota yang kini juga memiliki identitas sebagai Heritage City. Beberapa Situs terkunci dan hanya bisa dilihat dari luar seperti Situs Purwakalih dan Situs Ranggapati. Tidak terlihat Juru Pelihara yang seharusnya selalu ada untul menjaga dan bercerita ketika ada wisatawan yang tiba.

Selain itu, masih belum ada penjelasan yang jelas mengenai apa peninggalan tersebut dan diperuntukkan untuk apa. Hanya ada papan informasi Cagara Budaya dari Pemkot Bogor. Hal tersebut kami temukan di Situs Mbah Dalem, Purwakalih, Batu Congkrang, Ranggapati hingga Batu Dakon.

Keadaan ironi dan menyedihkan begitu terlihat ketika Kami mengunjungi Situs Batu Dakon yang lokasinya hanya sekitar 50 meter dari Kantor Kecamatan Bogor Selatan. Situs yang juga ada di beberapa Kota dan di beberapa literatur dituliskan sebagai tempat penumbuk padi dan biji-bijian itu terlihat tidak terawat. Beberapa barang bekas dari mulai perabotan rumah hingga jemuran baju terlihat ada di sekitar Batu yang memiliki beberapa cekungan seperti papan permainan congklak. Bahkan, situs yang syarat akan kisah masa lalu tersebut juga menjadi tidak terlihat karena tertutup oleh pohon bunga mawar yang membentuk semak.

Melihat kondisi ini, kami coba sampaikan ke Wali Kota Bogor Bima Arya dan orang nomor satu di Kota Hujan tersebut. Pemimpin yang akrab disapa Kang Bima ini merespon dengan akan melakukan koordinasi dengan Provinsi.

“Kita kordinasikan dengan provinsi,” jawab Kang Bima.

Melihat kondisi tersebut, Ketua Komunitas Bogor Historia (Bohis) Yudi Irawan menilai bahwa terbengkalainya Situs Batu Dakon adalah hal yang miris sekali. Dan seharusnya, Pemerintah, Tim Ahli Cagar Budaya serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan memiliki perhatian kepada aset sejarah Kota Pusaka.

“Sangat miris sekali ya melihat batu dakon seperti itu kondisinya. Padahal batu itu memiliki sejarah dan digunakan sebagai sistem pengkalenderan saat prasejarah untuk bercocok tanam. Kalau sekarang itu pakai kalender. Sayang banget kalau kondisinya seperti itu. Pemerintah setempat, TACB dan Dinas Pariwisata seharusnya memiliki perhatian ke Batu Dakon. Apalagi di sekitar situs ada pembangunan Double Track dari PT KAI. Dan Batu Dakon adalah aset sejarah yang harus diperhatikan. Dan Batu Dakon juga ada di tempat lain dan dirawat. Di tempat lain situs batu yang memiliki cerukan ini juga disebut batu congklak karena bentuknya kaya papan congklak,” kata Yudi.

Penataan kawasan Batu Tulis sendiri sudah direncanakan oleh Pemkot Bogor dengan menggelar sarasehan bersama akademisi, warga, komunitas hingga budayawan di Balaikota Bogor pada Rabu (29/1/2020) lalu. Selain itu, Kang Bima bersama Komunitas Bogor Historia juga telah mendatangi sembilan prasasti bersejarah, yang tersebar di sejumlah wilayah di Batu Tulis. Seperti Prasasti Batu Dakon, Situs Rangga Pati, Batu Congkrang, Batu di Rumah Warga depan Puskesmas, Batu Lingga di Rumah Warga (Enci), Purwakalih, Situs Rangga Gading, Situs Batu Macan, hingga Situs Kuta Dani Lawang Gintung pada Sabtu (01/02/2020) lalu.

Meskipun, rencana yang sudah dicanangkan sejak tahun lalu belum ada aksi nyata yang terlihat. Belum ada perubahan yang berarti di kawasan peninggalan Raja tersebut. Padahal Bima menjelaskan bahwa gerakan yang dilakukannya untuk mengetahui sejarah Kota Bogor dan komitmennya yang ingin menjadikan Kota Hujan sebagai Heritage City (red: Kota Warisan Budaya)

Sepertinya, Kota Bogor punya pekerjaan rumah yang begitu banyak untuk bisa menyukseskan Kongreng ke-V Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Kota Bogor. (dok)

Tags: , , , ,