Romo Wisnu Berang Dengan Sikap ‘Penjilat’ Syarif Hasan

Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha

Jakarta, Pelitabaru.com

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Kubu AHY Syarief Hasan yang menilai langkah SBY mendaftarkan Partai Demokrat sebagai kekayaan pribadinya ke HAKI sudah benar, memicu reaksi keras pendiri Partai Demokrat ke 11 Wisnu Herryanto Krestowo Probojati Notonegoro atau akrab disapa Romo Wisnu.

“Membaca statement anda (Syarief Hasan,red) di media online, Senin (12/4/2021) tentang Merk Partai Demokrat kepada Ditjen HAKI sebagai kekayaan intelektual pribadi saudara Soesilo Bambang Yudhoyono, anda katakan sudah tepat, maka perlu saya sanggah dan tanggapi,” tandas Romo dalam surat terbukanya yang juga diterima Redaksi Pelita Baru, tadi malam.

Dalam sanggahan itu, Romo juga menulis telah membuat surat terbuka kepada Menkumham cq Dirjen HAKI adalah untuk meluruskan duduk persoalan secara benar dan proporsional berdasarkan bukti dan fakta.

“Saya adalah saksi sekaligus pelaku sejarah yang merancang dari awal sampai lahir dan berdirinya Partai Demokrat bersama saudara Vence Rumangkang dan Kurdi Mustofa, bukan mengaku-ngaku seperti yang anda tuduhkan,” kata Romo.

Romo menceritakan, pada saat awal dirinya hanya bertiga (Romo Wisnu, Vence dan Kurdi) menggagas dan mempersiapkan lahir serta berdirinya Partai Demokrat. “Posisi esbeye pada waktu itu sangat pasif, bagaimana anda bisa tahu bahwa esbeye penciptanya,” tanya Romo.

Menurut Romo, Syarief Hasan hanyalah seorang pendatang dan penikmat Partai Demokrat, kemudian ikut-ikutan mengambil alih dengan cara yang tidak sportif dari kader lain setelah partai ini eksis. Romo menyebut Syarief  tidak pernah merasakan bagaimana perjuangan dan pengorbanan para pendiri, sejak esbeye kalah pada pemilihan Wapres di Sidang Istimewa MPR-RI 2001.

“Hingga melahirkan gagasan membuat partai alternatif sebagai kendaraan politik esbeye untuk maju pada kontestasi Pemilu/Pilpres 2004. Anda tidak tahu bagaimana kedekatan saya dengan esbeye waktu itu. Jadi pernyataan Anda tersebut adalah BULLSHIT alias ASBUN (Asal Bunyi) seperti ndoro tuanmu,” tulis Romo.

“Waktu anda jadi anggota DPR-RI diawal esbeye berkuasa, apakah masih ingat waktu Anda mengundang saya di cafe Win Plaza Senayan, minta pendapat/konsultasi dengan saya soal koalisi setengah hati yang menggoyang kabinet esbeye. Artinya kalian menganggap saya sebagai narasumber yang berkompeten dari perspektif intelejen yang menguasai anatomi Partai Demokrat,” paparnya.

Romo menegaskan, bahwa yang mengetahui persis sejarah proses lahir dan berdirinya partai demokrat 20 tahun yang lalu, saat ini tinggal dua orang, yakni dirinya dan esbeye.

“Jadi anda jangan sok tau hanya karena anda menjadi good boys Cikeas. Biarlah esbeye sendiri yang komentar atau bicara langsung dengan saya untuk klarifikasi, karena dia telah ingkar janji,” tandas Romo.

Dalam surat tersebut Romo juga bertanya kepada Syarief. Apakah perlu rahasia dan aib esbeye saya bongkar dan beberkan ke anda biar mata anda melek,” katanya.

Romo mengaku selama 20 tahun lebih ini dirinya tidak pernah mengganggu esbeye maupun Syarief Hasan dan kroni-kroni lainnya. Akan tetapi kemunafikan dan kebohongan yang dibangun sebagai pencitraan di depan publik Indonesia lama-lama membuat dirinya muak.

“Diluar negeri saya juga malu jika ditanya soal esbeye . Hati nurani saya yang bicara bahwa kemunafikan dan kebohongan esbeye selama ini harus segera diakhiri. Secara kebetulan beberapa hari yang lalu saya diberitahu bahwa esbeye telah mendaftarkan ke Ditjen HAKI untuk mematenkan logo/lambang merk Partai Demokrat sebagai property right pribadinya. Ini yang saya lawan karena tidak benar,” ujar Romo.

“Kalau hymne dan mars demokrat hasil karya ciptanya mungkin benar karena memang dulunya esbeye adalah pemain band hingga terjadi skandal. Hymne dan Mars itupun sebenarnya sudah menjadi milik partai,” tambahnya.

Dalam poin ke lima, Romo juga memperingatkan suami dari Inggrid Kansil itu. “Perlu anda ketahui bahwa sebagai intelektual, saya tidak pernah melacurkan diri hanya untuk memenuhi selera serta kepuasaan seorang esbeye dengan cara mencari muka dan jadi penjilat, yang benar saya katakan benar dan yang salah saya katakan salah.”

Sikap itulah yang membuat esbeye kurang nyaman kepada dirinya, sehingga setelah berkuasa di istana negara memerintahkan orang-orang di sekelilingnya yang dekat dengan dirinya agar menjauh. “Begitu pula soal merk demokrat yang dimintakan ke Ditjen HAKI untuk mendapatkan property right atas nama pribadinya langsung saya respon dengan membuat surat terbuka ke Menkumham, menyampaikan KEBERATAN karena hal tersebut tidak benar.”

Esbeye melalui Vence hanya menyarankan untuk melakukan modifikasi merk demokrat yang sekarang digunakan, termasuk mengubah arti dan maknanya dari rancangan awal yang sudah kami siapkan.

“Saudara Syarif Hasan, perlu anda ketahui bahwa sepanjang hidup saya hingga usia senja ini, saya bergaul dan bermasyarakat mulai dari kalangan bawah hingga elit, baik didalam maupun diluar negeri, saya belum pernah menemui manusia yang paranoid dan selicik esbeye, dan penyakit itu sekarang diturunkan ke Anda,” tulid Romo di poin ke 6.

Romo menilai, cara berpikir ASyarief sudah keblinger, karena merk partai tentunya hanya Partai yang menjadi Pemiliknya.

“Bukan milik pribadi, logika dan rasionalitas anda patut dipertanyakan. Beginikah kwalitas seorang yang menyandang jabatan pimpinan lembaga tinggi negara. Sungguh sangat menyedihkan. Terus negara ini mau dibawa kemana, jika pimpinan Lembaga Tingginya kwalitasnya model Anda,” tulis dia.

Romo juga bersyukur telah memberikan karunia semua apa yang diperlukannya di dunia maupun bekal diakherat nanti.

“Oleh karena itu saya tidak punya ambisi untuk cari popularitas maupun kepentingan pribadi apapun. Yang saya suarakan adalah hati nurani untuk menegakkan keadilan dan kebenaran demi kebaikan serta kemaslahatan bersama, khususnya untuk generasi penerus partai yang dirikan 20 tahun yang lalu.”

“Jadi jika Anda mengatakan bahwa 99 orang yang tercantum sebagai pendiri Partai Demokrat tidak tahu apa-apa tentang proses pendirian partai demokrat dan hanya untuk memenuhi persyaratan formal saja, itu namanya Anda KURANG AJAR dan TIDAK BERMORAL,” tandasnya.

Berarti, kata Romo, Syarief Hasan tidak tahu proses dan sejarah berdirinya Partai Demokrat yang sesungguhnya.

“Otakmu sudah dicuci oleh esbeye untuk kepentingan OLIGARKI politik dynasti Yudhoyono. Sebagian kecil yang hanya ikut-ikutan, mungkin dugaan anda benar. Tetapi kami yang merancang dan memikirkan dari NOL BESAR sampai jadi, justru sebaliknya kami akan mengatakan kalian hanyalah PENGGUNA – PENIKMAT dan kemudian menjadi PERAMPOK hasil karya kami. Persis seperti legenda Ken Arok si- BANDIT tukang BEGAL dari Tumapel-Singosari yang telah ber-inkarnasi menjadi Akuwu Cikeas, sebagai junjungan dan sesembahan kalian,” kata Romo mengakhiri surat terbukanya.

Sebelumnya, Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Syarief Hasan mengatakan langkah Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendaftarkan hak kekayaan intelektual (HAKI) Partai Demokrat atas nama pribadinya ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumhan) sudah tepat.

“Langkah Pak SBY mendaftarkannya sebagai hak paten adalah sudah benar dan harus dilakukan,” kata Syarief kepada wartawan.

Syarief mengatakan, SBY merupakan penggagas sekaligus pendiri Partai Demokrat sekalipun tidak terdaftar namanya. SBY menciptakan nama, lambang dan artinya, ideologi partai, lagu mars hingga hymne Partai Demokrat.

Syarief menyebut pendiri yang terdaftar tidak tahu apa-apa tentang proses gagasan pendirian Partai Demokrat.

“Mereka hanya untuk mengikuti syarat pendirian dan jumlah nama yang 99 orang pendiri diambil dari ulang tahun SBY 9 September,” ujarnya.

Syarief juga menanggapi adanya surat terbuka atas nama Wisnu Herryanto Krestowo yang mengaku sebagai pencipta lambang Partai Demokrat. Ia mengatakan tujuan SBY mendaftarkan Partai Demokrat ke Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham untuk mengantisipasi adanya pihak yang mengaku-ngaku sebagai pembuat lambang Partai Demokrat.

“Justru untuk menepis klaim seperti itu dan mungkin makin banyak nantinya,” ucap wakil ketua MPR itu. (net/red)

Tags: , , ,