Pengedar ‘Gorilla’ Buka Lapak di Instagram

RILIS: Kapolres Bogor AKBP Harun (tengah) bersama jajaran Bea Cukai Bogor menunjukan barang bukti berupa narkoba jenis tembakau sintetis yang berhasil mereka amankan, belum lama ini.

Bogor, Pelitabaru.com

Satnarkoba Polres Bogor membekuk dua pengedar narkotika jenis tembakau sintetis di wilayah Kabupaten Bogor. Dua pelaku ini mengedarkan narkoba yang biasa disebut tembakau gorilla via daring dengan menggunakan media sosial Instagram.

Kapolres Bogor, AKBP Harun mengatakan kedua tersangka berinisial RF (20) dan AD (19) itu dibekuk dari hasil kerjasama cyber patrol dengan Bea Cukai Bogor. Tersangka diketahui membeli tembakau gorilla dari wilayah Makassar melalui akun media sosial Instagram.

“Diawali Bea Cukai Bogor, ada transaksi tembakau sintetis dengan pakai jasa pengiriman barang dari RF dan AD ini memesan melalui akun Instagram dari daerah Makassar,” kata Harun, Selasa (6/4/2021).

Tembakau sintetis yang dipesan kedua tersangka dikemas dan diselipkan di antara tumpukan baju untuk dikirim ke Bogor. Bea Cukai dan polisi berkoordinasi untuk melakukan penangkapan.

“Kita lakukan penangkapan tersangka di rumahnya saat menerima paket ini,” kata Harun.

Dari keterangan tersangka, tembakau sintetis itu akan dijual kembali juga melalui akun Instagram. Biasanya, pembeli narkotika jenis tembakau sintetis itu mayoritas remaja.

“Keterangan tersangka mereka menjual lagi pakai juga. Jadi mereka tawarkan kembali tembakau sintetis itu ke akun IG mereka. Pasarnya biasanya kaum remaja, mahasiswa dan SMA,” katanya. Barang bukti yang didapat dari tangan kedua pelaku yakni tembakau sintetis seberat 590,35 gram.

Selain pengedar tembakau sintetis, polisi juga menangkap 8 tersangka lain dalam kasus narkotika jenis sabu dengan barang bukti 110, 89 gram dalam kurun waktu dua pekan terakhir di Kabupaten Bogor.

“Kesepuluh tersangka itu dikenakan Pasal 114 Ayat 1, Pasal 112 Ayat 1 Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika ancaman minimal 4 tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara. Denda minimal Rp 800 juta dan maksimal Rp 8 miliar,” tutur Harun. (ega)

Tags: , , , ,