Jokowi Jengkel Dengan China, Desak Hilirisasi Dikebut

Presiden Jokowi. (Foto: Setpres)

Jakarta, Pelitabaru.com

Presiden Joko Widodo (Jokowi) jengkel dengan China. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan soal ekspor timah mentah yang selama ini dilakukan secata kontinu. Padahal, jika dikelola sendiri, nilai dari Sumber Daya Alam (SDA) ini, bisa 69 kali lipat dari penghasilan selama ini.

Karena itu, Jokowi pun meminta agar hilirisasi timbah di dalam negeri bisa dikebut.

“Kalau kita ini buat yang namanya komponen-komponen PCB ini nilai tambahnya bisa 69 kali. Kenapa gak kita buat? Kenapa kita ekspor? Dan yang dapat negara lain lagi,” kata Jokowi dalam acara Mandiri Investment Forum di Jakarta, dikutip Sabtu (5/2/2023).

Tak hanya itu, Jokowi pun meminta Indonesia harus konsisten dalam menjalankan program hilirisasi komoditas tambang. Bahkan Jokowi tak akan gentar apabila pihak internasional kembali menggugat seperti apa yang sudah terjadi pada nikel.

“Hati-hati, kita harus konsisten. Meskipun ini diulang lagi, digugat lagi, gak apa-apa. Jangan luntur,” imbaunya.

Sebelumya, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pernah menceritakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bisa tumbuh 5,3 persen ditengah ancaman krisis global yang terus membayangi seiring dengan konflik Rusia-Ukraina.

“Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi 5,3% dan ekspor senilai USD293 miliar pada tahun lalu, lebih besar dibandingkan tahun 2021 yang hanya USD232 miliar,” jelasnya.

Bukan hanya itu, Indonesia juga mengantongi komitmen investasi bilateral. Jumlah mencapai US$71 miliar yang diterima saat gelaran G20 tahun lalu.

“Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi 5,3% dan ekspor senilai USD293 miliar pada tahun lalu, lebih besar dibandingkan tahun 2021 yang hanya USD232 miliar,” kata Luhut.

Pernyataan Luhut selaras dengan pernyataan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang mengatakan meski saat ini kondisi perekonomian global memang tengah diselubungi awan hitam namun ia optimistis Indonesia mampu bertahan bahkan menjadi cahaya di tengah gelapnya kondisi perekonomian global saat ini, seperti halnya yang disampaikan IMF dalam proyeksi ekonominya.

Sikap optimis ini sejalan dengan keberhasilan Indonesia melewati masa sulit pandemi Covid-19 kemarin, maka kamampuan untuk bertahan bahkan menjadi cahaya di tengah kegelapan menurutnya sangat mungkin terjadi.

“Bahkan managing director IMF mengatakan Indonesia itu adalah the bright side in the dark. Nah tentu Indonesia berharap karena kita punya resiliensi selama penanganan pandemi Covid-19, nah kita juga berharap punya resiliensi di tahun 2023 ini. Indonesia the bright side di tengah awan gelap,” katanya dengan optimis dilansir dari Setkab.co.id.

Baca Juga :  Jokowi Terbitkan Surat, Saatnya BKN Respon Cepat Peduli Honorer Terkatung-katung

Tahun 2023 ini juga menjadi tahun politik, sehingga dia berharap sikap optimistis bisa dikedepankan dan ini juga harus dibarengi dengan upaya untuk terus menjaga stabilitas politik. Karena menurutnya, keberhasilan ekonomi akan selalu berjalan beriringan dengan kestabilan politik.

“Secara politik, di tengah tahun politik ini konsolidasi juga berlangsung artinya kita berkompetisi sesuai dengan regulasi dan stabilitas politik kita bisa jaga, karena kuncinya adalah stabilitas politik. Kemaren kita 3 tahun menangani dengan politik yang stabil maka pemerintah fleksibel dalam menyesuaikan anggaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Mengenai booming komoditas, dia yakin hal ini telah berlalu. Pada 2023, harga komoditas cenderung mengalami penurunan. Airlangga menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi hal ini, terutama untuk risiko tergerusnya penerimaan.

Pemerintah, sambungnya, melihat ada beberapa komoditas yang akan tetap tinggi hingga akhir tahun, yakni tembaga dan emas.

“Contohnya copper and gold itu sekarang merangkak naik. Biasanya kalau copper and goldnya merangkak naik, komoditas yang lain juga akan tertahan, termasuk nikel dan logam mulia lain,” katanya.

Jika hal ini terjadi, dia yakin Indonesia bisa menikmati DHE. Saat ini, Airlangga menuturkan 3 komoditas primadona dari RI masih dipegang oleh nikel, kelapa sawit dan batu bara.

“Jadi di situasi sekarang kelihatan bahwa ke depan harga komoditas yang tinggi ini bisa membantu daya tahan ekonomi kita,” paparnya.

Selanjutnya yang menopang ekspor Indonesia adalah manufaktur. Airlangga mengungkapkan pemerintah akan berupaya mengenjot sektor ini. Dia yakin ada tiga kunci mendorong manufaktur Indonesia. Pertama, optimisme dan kedua adalah permintaan yang baik.

Terakhir, tindak lanjut hilirisasi dan pengembangan ekosistem di sektor manufaktur.

“Ada beberapa industri andalan di dalam kebijakan industri 4.0, termasuk di antaranya adalah hilirisasi logam, dan ini terjadi karena ekspor logam kita sudah hampir lebih dari US$ 22 bilion, bahkan diperkirakan bisa mencapai US$ 30 billion di tahun 2024,” pungkasnya

Sekedar diketahui, Pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia tercatat sebesar US$ 4,3 ribu pada 2021. Nilai itu lebih besar dari Vietnam yang sebesar US$ 3,8 ribu. Jumlah tersebut telah naik hampir 40% sejak 2001 yang hanya sebesar Rp7,2 juta. Sepanjang dua dekade tersebut, rata-rata pertumbuhan pendapatan penduduk Indonesia meningkat 3,75% per tahunnya. (adi/fuz/gin/*)

Tags: , ,