DPR: Baru 22 Persen, Vaksinasi Terancam Gagal

ILUSTRASI : Seorang lansia menjalani vaksinasi COVID-19.

Jakarta, Pelitabaru.com

Anggota Komisi IX DPR RI Darul Siska mengatakan, program vaksinasi Covid-19 terancam gagal. Apalagi presentase vaksinasi baru mencapai 22 persen target

“Berdasarkan penjelasan tiga pembicara, kami melihat potensi kita untuk gagal melakukan vaksinasi itu juga besar. Karena sampai hari ini persentase kita baru 22 persen dari target,” kata Darul dalam rapat bersama Menteri Kesehatan di Komisi IX DPR RI, Kamis (8/4/2021).

Darul juga mengkritik Kemenkes yang menampilkan Indonesia masuk negara ke delapan tercepat dalam vaksinasi. Menurutnya tidak bisa dibandingkan dengan kesuksesan vaksinasi. Sebab yang perlu dilihat adalah pencapaian herd immunity dilihat dari presentase vaksinasi dengan jumlah penduduk.

“Dalam soal vaksinasi itu kalau jumlah penduduk dan presentase yang sudah divaksin itu melihat dari kacamata pencapaian herd immunity salah satu upaya mencapainya adalah dengan vaksinasi,” jelas politikus Golkar ini.

Menurutnya Kemenkes harus menyajikan data vaksinasi secara objektif bagaimana kemampuan untuk mencapai herd immunity tersebut.

“Ini yang barangkali kalau bisa disajikan kepada kita akan melihat secara objektif kapan sih kemampuan kita untuk mencapainya,” jelas Darul.

Selain itu, Darul menyoroti kekurangan stok vaksin akibat embargo vaksin AstraZeneca yang dibuat di India. Menurutnya, Kemenkes perlu membuat skenario pesimis program vaksinasi ini. Supaya bisa membuat masyarakat tetap waspada terhadap Covid-19.

“Dengan demikian kita mengantisipasi kegagalan untuk melakukan vaksinasi ini baik untuk kita lakukan supaya kita waspada,” jelasnya.

Terpisah, Epidemiolog UGM, dr. Riris Andono Ahmad, mengatakan kekebalan komunal terhadap virus SARS Cov-2 dapat diperoleh baik melalui vaksinasi maupun infeksi langsung dengan 70 persen populasi telah divaksin.

“70 persen populasi harus miliki imunitas untuk mencapai herd immunity. Lalu kapan Indonesia bisa mencapainya, itu tergantung kecepatan pemberian  vaksin dan capai targetnya sebelum selesai di durasi imunitasnya,” kata Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini, Rabu 31 Maret 2021.

Riris mengaku belum bisa mendapat kepastian berapa lama kekebalan tubuh terhadap Covid-19 terjadi di saat orang-orang sudah divaksin. Hal ini karena Covid-19 merupakan virus baru dan terus bermutasi sehingga para ilmuwan dunia masih terus meneliti dan mengumpulkan berbagai data soal virus ini.

“Sejumlah penelitian ada yang menyebutkan jika setelah 3 bulan imunitasnya menurun, ada yang setelah 6 bulan dan sudah 1 tahun. Kemudian yang jadi acuan sekitar 1 tahun, tapi sekali lagi memang belum ada kesimpulan pasti karena Covid-19 ini penyakit baru,” ujar dosen FKKMK UGM ini.

Ia berharap pemberian vaksin dapat dilakukan sesegera mungkin sehingga kekebalan komunal bisa terwujud sebelum terjadi penurunan kekebalan terhadap virus corona baru ini. Ia pun meminta masyarakat untuk tidak ragu lagi menerima vaksin sehingga dapat menyukseskan program vaksinasi nasional untuk pengendalian Covid-19 di tanah air.

Menurutnya jika seluruh target vaksin telah menerima vaksin lengkap, masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi protokol kesehatan. Pasalnya vaksinasi tak lantas mampu menghentikan pandemi Covid-19.

Pemberian vaksin dalam hal ini membantu mengendalikan pandemi Covid-19 yakni diharapkan bisa menurunkan angka kesakitan dan angka kematian. Namun begitu penularan virus corona masih saja tetap berlangsung.

“Jadi meski sudah vaksinasi masih harus tetap jaga 5 M karena penularan masih bisa berlanjut. Hanya saja risiko untuk sakit menjadi parah dan meninggal bisa diturunkan dengan divaksin,” tuturnya.

Saat ini vaksinasi Covid-19 di Indonesia telah memasuki tahap ke-2 yang diperuntukkan bagi lansia dan pekerja publik. Sebelumnya di tahap pertama telah diberikan vaksin pada tenaga kesehatan. Untuk itu masih tersisa vaksin tahap 3 bagi kelompok masyarakat rentan dari aspek geospasial, ekonomi, dan sosial. Lalu vaksin tahap 4 bagi masyarakat dan pelaku ekonomi lainnya dengan pendekatan kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin. (net/bil)

Tags: , , ,