Benarkah Masa Depan TikTok Diujung Tanduk?

Jakarta, Pelitabaru.com

Media sosial, TikTok memang tak dipungkiri banyak digandrungi umat manusia di seantero planet Bumi. Tak hanya menjadikannya sebagai media berekspresi, TikTok juga terkadang menjadi lading bisnis karena bisa menghasilkan ekonomi yang baik.

Namun sayang, keberadaan TikTok kini berada diujung tanduk, setelah Federal Communications Commission (FCC) meminta pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk memblokir platform video pendek Tiktok. Permintaan tersebut sejalan dengan tinjauan potensi keamanan aplikasi oleh lembaga dan kementerian setempat.

Permintaan ini pun disambut senator Michael Bennet yang menuntut Apple dan Google bisa menghapus platform dari toko aplikasi masing-masing. Permintaan Bennet itu disampaikan pada kepala kepala eksekutif dua perusahaan, Tim Cook dan Sundar Pichai, pekan lalu.

Dia merujuk pada hubungan Tiktok dengan pemerintah China sebagai alasan penghapusan aplikasi dari App Store dan Play Store. Dalam suratnya, Bennet merujuk pada Tiktok yang dilaporkan mengumpulkan data pengguna dan menimbulkan ancaman khusus untuk keamanan AS.

“Pengaruh besar Tiktok dan pengumpulan data yang agresif menimbulkan ancaman khusus bagi keamanan nasional AS karena kewajiban perusahaan induknya di bawah hukum China. Mengingat kekhawatiran yang serius dan berkembang ini, saya meminta Anda segera menghapus Tiktok dari toko aplikasi masing-masing,” tulis Bennet, dikutip dari The Verge seperti dilansir CNBCIndonesia.

Bennet sendiri jadi senator pertama yang langsung menghubungi penyedia toko aplikasi untuk meminta menghapus Tiktok. Namun aksinya merupakan yang terbaru dari sederet tindakan kongres yang meningkat untuk melarang aplikasi milik China dalam beberapa waktu terakhir.

Termasuk pada Januari saat partai Demokrat dan Republik mendorong kolega dan pejabat administrasi pemerintah melarang aplikasi secara nasional. Tiga tahun terakhir, Tiktok terus bernegosiasi dengan pemerintah termasuk Komite Investasi Asing AS (CFIUS). Platform berbagi video meminta agar bisa mengoperasikan aplikasinya di negara tersebut.

Sementara itu dalam sebuah laporan Forbes bulan Desember terungkap karyawan Bytedance, induk perusahaan Tiktok, bisa mendapatkan data dari pengguna AS. Perusahaan mengonfirmasi laporan tersebut dan telah memecat empat karyawan yang terlibat dalam aksi dengan dua orang bekerja di China.

Baca Juga :  Tingkatkan Kapasitas Kelola Media Sosial, Himakom Unida Libatkan Alumni

Sebelumnya, Komite Investasi Asing (CFIUS) di Departemen Keuangan tengah melakukan peninjauan potensi implikasi keamanan nasional perusahaan. Penyebabnya karena Tiktok dimiliki oleh perusahaan dari China.

Bulan September lalu, The New York Times melaporkan Departemen Kehakiman setempat memimpin negosiasi atas kesepakatan keamanan. Baik pemerintahan Donald Trump hingga berlanjut ke Joe Biden terus menyatakan kekhawatiran atas risiko keamanan yang ditimbulkan oleh Tiktok. Keduanya juga meninjau hubungan perusahaan dengan pemiliknya di China.

Tiktok tak tinggal diam dan memastikan menyimpan data pengguna AS di luar China. Oleh karena itu perusahaan meyakinkan tidak perlu menyerahkan informasi pada pemerintah AS.

Namun para pejabat AS tetap skeptis dengan pernyataan Tiktok itu.

Terkait ucapan Carr, juru bicara perusahaan mengatakan dia tak punya peran pada diskusi antara Tiktok dengan pemerintah AS.

“Komisaris Carr tidak punya peran dalam diskusi rahasia dengan pemerintah AS terkait Tiktok dan sepertinya pandangan yang dia utarakan terlepas dari perannya sebagai komisaris FCC,” kata juru bicara Tiktok.

Beberapa bulan lalu Carr diketahui juga pernah menyurati CEO Apple Tim Cook dan CEO Alphabet Sundar Pichai dalam rangka mendorong keduanya memblokir Tiktok dari setiap toko aplikasi.

“TikTok tidak seperti yang terlihat di permukaan. Ini bukan hanya aplikasi untuk berbagi video atau meme lucu. Itu hanya penyamaran saja. Pada intinya, TikTok berfungsi sebagai alat pengawasan canggih yang mengumpulkan sejumlah besar data pribadi dan sensitif,” katanya dalam surat tersebut, dikutip dari CNBC Internasional bulan Juni lalu.

Kabar soal TikTok ini langsung disambut oleh investor di bursa saham. Saham Meta, induk usaha Instagram, melejit setelah harga saham perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg ini terus-terusan merosot dalam beberapa hari terakhir. (adi/fuz/gin/*)

Tags: ,