Bogor, pelitabaru.com – Universitas Pakuan (Unpak) menggelar Kuliah Umum dan Kick-Off Ekosistem Film Nasional dan Internasional 2026 di Ruang Teater Graha Pakuan Siliwangi (GPS) Lantai 10, Unpak, Kamis, 22 Oktober 2026.
Mengusung tema “Kunci Sukses Menjadi Entrepreneur dan Moviepreneur: Akademi Film Desa, Ekosistem Film, dan Peluang Generasi Muda Indonesia Go International”, sebagai langkah untuk mendorong pengembangan ekosistem perfilman sekaligus memperluas peluang kewirausahaan bagi generasi muda, khususnya bagi kalangan mahasiswa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi UNPAK–IFACE yang melibatkan berbagai pihak, di antaranya Bogor Global Youth Movement UNPAK–IFACE, Bogor ICMI Islamic Festival 2027, Akademi Film Desa 2026, serta Road to Cannes Film Festival, France 2028.
Acara tersebut dihadiri pimpinan Unpak, para dekan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), jajaran dosen, mitra kerja sama, pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan perwakilan diaspora Indonesia dari sepuluh negara.
Rektor Unpak, Prof. Didik Notosudjono, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan sambutan mengenai peran strategis film dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, film tidak terbatas pada fungsi hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan, ekspresi budaya, komunikasi sosial, serta sarana membangun identitas dan citra bangsa.
“Film bukan sekadar tontonan atau hiburan. Film merupakan media pendidikan, ruang ekspresi budaya, sarana komunikasi sosial, sekaligus instrumen strategis dalam membangun identitas dan citra bangsa,” ujarnya.
Melalui film, nilai-nilai kemanusiaan, sejarah, kearifan lokal, dan keberagaman budaya dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Oleh karena itu, pengembangan industri perfilman membutuhkan pendekatan menyeluruh yang melibatkan berbagai sektor. Rektor menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan kreativitas, teknologi, pendidikan, investasi, regulasi, dan pasar.
“Pengembangan perfilman tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan suatu ekosistem yang menghubungkan kreativitas, teknologi, pendidikan, investasi, regulasi, dan pasar,” tegasnya.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun ekosistem tersebut. Selain menjadi tempat transfer pengetahuan, perguruan tinggi juga berfungsi sebagai pusat pengembangan talenta, penelitian, inovasi, kewirausahaan, dan kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Dalam konteks pengembangan ekosistem film, Unpak dapat berkontribusi melalui lima langkah strategis, yakni pengembangan sumber daya manusia kreatif, penguatan riset dan inovasi, kolaborasi dengan industri, pelestarian dan promosi budaya lokal, serta pengembangan jejaring global.
Sejalan dengan hal tersebut, Unpak berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan pendidikan yang unggul, mandiri, dan berkarakter, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak guna memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam industri kreatif.
“Kepada para mahasiswa yang saya banggakan, saya ingin menyampaikan bahwa industri film masa depan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab,” pesannya.
Ia pun mengajak mahasiswa untuk terus belajar, membangun jejaring, dan mengembangkan kemampuan lintas disiplin agar mampu berkontribusi dalam perkembangan industri perfilman.
Ketua Pelaksana kegiatan yang juga Wakil Rektor I Bidang Akademik Unpak, Prof. Eri Sarimanah, mengatakan bahwa kegiatan ini dilandasi pentingnya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, berjiwa wirausaha, berkarakter, dan berdaya saing global.
Menurutnya, industri perfilman merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan talenta, memperkuat identitas budaya, membuka lapangan kerja, serta memperkenalkan karya Indonesia kepada dunia.
“Oleh karena itu, melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan memahami kunci sukses berwirausaha, peluang moviepreneurship, serta bagaimana kreativitas dan potensi lokal dapat dikembangkan menjadi karya dan usaha yang bernilai ekonomi maupun sosial,” ujarnya.
Prof. Eri menjelaskan, kegiatan ini diikuti oleh 150 mahasiswa Unpak dari FEB, FISIB, dan FKIP. Selain mahasiswa, kegiatan juga melibatkan pimpinan, dosen, jajaran struktural, mitra kerja sama, serta diaspora Indonesia dari sepuluh negara.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman di bidang industri kreatif dan perfilman, yakni Harlan Bestari Bengardi, BSBA, PGHM., CEO dan Co-Founder Pestigo, serta Reza B. Surianegara, S.E., produser, sutradara, dan Direktur Utama PT Mahakarya Bhumi Hambalang.
Melalui sesi kuliah umum, kedua narasumber memberikan perspektif mengenai pengembangan industri kreatif, pengelolaan ekosistem film, serta peluang membangun karya yang mampu menjangkau audiens lebih luas.
Harlan Bestari Bengardi membagikan perspektif mengenai kewirausahaan dan pengembangan ekosistem kreatif, termasuk pentingnya inovasi, pengelolaan ide, kolaborasi, serta pembangunan model usaha yang berkelanjutan.
Perspektif tersebut relevan bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan potensi kreatif menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi.
Sementara itu, Reza B. Surianegara memberikan pemahaman mengenai proses produksi film dari perspektif praktisi, mulai dari pengembangan gagasan, perencanaan produksi, penyutradaraan, hingga pengelolaan karya audiovisual.
Pengalamannya di bidang produksi dan penyutradaraan dapat menjadi referensi bagi peserta untuk memahami tantangan serta peluang dalam industri perfilman.
Kedua perspektif tersebut diharapkan saling melengkapi sehingga peserta tidak hanya memahami aspek kreatif dalam pembuatan film, tetapi juga melihat pentingnya manajemen, jejaring, dan keberlanjutan dalam pengembangan industri kreatif.
Kegiatan ini turut menghadirkan unsur pengembangan perfilman berbasis masyarakat melalui Akademi Film Desa, yang menjadi bagian dari upaya memperluas ruang bagi potensi lokal untuk berkembang menjadi karya kreatif.
Kolaborasi lintas sektor dan jejaring internasional diharapkan dapat membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk memperkenalkan karya serta mengembangkan usaha kreatif hingga ke tingkat global.
Melalui Kuliah Umum dan Kick-Off Ekosistem Film Nasional dan Internasional 2026, Unpak berharap dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam melahirkan talenta kreatif, memperluas kolaborasi dengan industri, serta mendorong pengembangan perfilman yang berakar pada kekayaan budaya Indonesia dan mampu menjangkau pasar internasional.
Tidak hanya itu, komitmen tersebut tertuang dalam lembar nota kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU) antara Unpak dengan ICMI Film Academy dan Creative Ecosystem (IFACE). (Zie)












