Bogor, Pelita Baru
Sudah 34 tahun, Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga beroperasi. Namun baru kali ini, kawasan yang sebelumnya kumuh dan nyaris tak pernah menjadi perhatian khusus, bakal berubah menjadi sorotan.
Ya, dibawah kepemimpinan Rudy Susmanto, TPA Galuga yang beroperasi sejak 1992 kini akan bertranformasi dari kawasan kumun menjadi sumber energi listrik. Tak tanggung-tanggung, dari dari 1.500 ton sampah akan diolah menjadi energi listrik 15-40 Megawatt.
“Momentum hari ini adalah momentum yang paling kami tunggu-tunggu. Belum genap dua tahun kami memimpin Kabupaten Bogor, tetapi prioritas utama kami adalah bagaimana Bogor memiliki pengelolaan sampah yang modern,” ujar Rudy saat penandatanganan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Bogor dan PT Weiming Nusantara Bogor New Energy pada Rabu (16/9/2026).
Rudy juga mengaku, jika langkah ini memang menjadi salah satu momentum yang paling ditunggu sejak dirinya bersama Wakil Bupati Bogor mulai memimpin Kabupaten Bogor pada 20 Februari 2025.
Menurutnya, salah satu prioritas utama pemerintahannya adalah menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan. Hal ini tentunya tak lepas dari kebutuhan tersebut tidak terlepas dari besarnya beban Kabupaten Bogor. Dengan 40 kecamatan, 416 desa, 19 kelurahan dan jumlah penduduk sekitar 6,1 juta jiwa, pengelolaan sampah tidak lagi dapat mengandalkan pola konvensional berupa pengumpulan dan penumpukan.
“Sudah kurang lebih 34 tahun TPA Galuga menjalankan fungsinya. Kami berpikir, bagaimana masyarakat Bogor bagian Barat yang selama ini menjadi penopang dan tempat pembuangan akhir sampah bisa memperoleh taraf hidup yang jauh lebih baik ke depan,” kata Rudy.
Sementara itu, Senior Vice President Stakeholders Relationship menjelaskan teknologi yang akan digunakan dalam PSEL Galuga bukan merupakan teknologi eksperimental yang baru dikembangkan. Teknologi pengolahan sampah menjadi energi tersebut telah berkembang dan digunakan di sejumlah negara, dengan kapasitas pengolahan yang relatif besar.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pengendalian emisi. Menurut Dede, teknologi yang digunakan menerapkan standar emisi yang tinggi dengan mengacu pada standar Eropa sehingga aspek perlindungan lingkungan menjadi bagian penting dalam pengoperasian PSEL.
“Teknologi ini di negara lain sudah berkembang lama. Kita yang baru menerapkan. Salah satu kelebihannya, buangan emisinya sangat dijaga dengan standar yang sangat tinggi, standar Eropa,” katanya.
Selain teknologi, aspek transfer pengetahuan dan keterlibatan tenaga kerja lokal juga menjadi bagian penting dari kehadiran PSEL di Kabupaten Bogor.
Dengan dimulainya pembangunan fisik setelah groundbreaking, peluang perekrutan tenaga kerja lokal diharapkan mulai terbuka seiring kebutuhan pekerjaan konstruksi hingga operasional fasilitas.
Ditempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, mengatakan fasilitas PSEL Galuga dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari. Sampah tersebut akan menjadi bahan baku untuk menghasilkan energi listrik yang selanjutnya disalurkan melalui mekanisme off-taker PT PLN (Persero).
“PSEL ini untuk 1.500 ton sampah. Dari 1.500 ton sampah itu menghasilkan 15 sampai dengan 40 megawatt,” ujar Teuku Mulya.
Menurutnya, energi listrik yang dihasilkan nantinya akan masuk dalam mekanisme distribusi PLN. Pemanfaatan energi tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan pasokan listrik untuk kebutuhan di wilayah sekitar Kabupaten Bogor, khususnya kawasan Bogor Barat.
“Yang mengonsumsi nanti melalui mekanisme off-taker-nya PLN. Nanti PLN yang mendistribusikan, tentunya ke wilayah-wilayah sekitar Bogor Barat,” jelasnya.
Teuku menjelaskan, bahan baku PSEL tidak hanya berasal dari produksi sampah harian Kabupaten Bogor. Tumpukan sampah yang selama ini telah berada di kawasan Galuga juga menjadi bagian dari upaya pengolahan melalui fasilitas tersebut.
“Produksi sampah kita nanti per hari, plus tumpukan sampah yang sudah ada. Jadi nanti akan diolah ataupun dibakar melalui mekanisme PSEL,” katanya.
Pembangunan PSEL Galuga menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah Kabupaten Bogor. Sampah yang selama ini menumpuk di kawasan TPA secara bertahap diarahkan untuk masuk dalam sistem pengolahan yang menghasilkan energi, sehingga pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses penampungan.
Lanjut Teuku, Pemkab Bogor telah menyiapkan berbagai dukungan untuk pembangunan PSEL yang dijadwalkan memasuki tahap groundbreaking pada 17 September 2026. Dukungan tersebut mencakup aspek keamanan, lalu lintas, hingga memastikan kondisi kawasan Galuga tetap kondusif pascakebakaran sampah.
“Intinya dalam kondisi sekarang alhamdulillah kondusif dan kita siap untuk melakukan groundbreaking pembangunan PSEL,” tandasnya.
Kehadiran PSEL juga diharapkan menjadi momentum bagi Kabupaten Bogor untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern sekaligus menghasilkan manfaat baru berupa energi listrik.
Dengan kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari dan potensi energi hingga 40 MW, Galuga diproyeksikan menjadi salah satu titik penting dalam transformasi pengelolaan sampah dan energi di Kabupaten Bogor.
Kemudian, Senior Vice President Stakeholders Relationship Danantara, Dede Firmansyah menegaskan, energi listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah nantinya akan masuk ke sistem ketenagalistrikan dengan PLN sebagai pihak yang menjadi offtaker. Ketentuan tersebut telah diatur dalam Perpres Nomor 109 termasuk pasokan sampah.
Dede menjelaskan, manfaat pembangunan PSEL bagi pemerintah daerah bukan berupa keuntungan langsung dari penjualan listrik. Nilai tambahnya lebih luas, mulai dari masuknya investasi, penyelesaian persoalan sampah, manfaat lingkungan hingga penciptaan lapangan kerja.
Dengan dimulainya pembangunan PSEL, wajah Galuga perlahan diarahkan berubah. Sampah tidak lagi sekadar dipandang sebagai residu yang harus ditampung, tetapi menjadi bahan baku untuk menghasilkan energi sekaligus membuka peluang investasi, lapangan kerja dan manfaat lingkungan bagi Kabupaten Bogor.
Dari tempat bermuaranya sampah, Galuga kini disiapkan menjadi salah satu titik perubahan pengelolaan sampah berbasis teknologi di Kabupaten Bogor. (duan/*)












