Dorong Pertanian Berkelanjutan, Tim IPB University Terapkan Teknologi Nanobubble dan Sistem Terpadu di KWT Ciharashas

oleh
banner 468x60

Bogor, pelitabaru.com – Komitmen pemberdayaan masyarakat kembali ditunjukkan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB University). Berlokasi di lahan produktif Kelompok Wanita Tani (KWT) Ciharashas, Kampung Ciharashas, Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, tim pakar IPB meresmikan Penerapan Demonstration Plot (Demplot) Integrated Farming System (IFS) berkonsep ekonomi sirkular pada Rabu (19/8/2026).

Langkah nyata ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat BIMA Tahun 2026 di bawah skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat. Melalui program ini, lahan pekarangan warga disulap menjadi kawasan pertanian terpadu yang memadukan budidaya hortikultura, perikanan, peternakan, hingga pengolahan limbah organik secara mandiri.

banner 336x280

Ketua Tim Pelaksana Pengabdian dari Program Studi Manajemen Agribisnis IPB, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa demplot IFS menjadi pondasi utama dalam menciptakan sistem pertanian berkelanjutan.

“Hari ini kita bersama-sama mewujudkan integrasi fisik antar-subsistem, mulai dari penataan tanaman hortikultura, kolam perikanan, hingga kandang ternak dan pengolahan limbah. Khususnya pada pelatihan hari ini, kita menerapkan inovasi nanobubble untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan bertajuk ekonomi sirkular,” ujar Dr. Doni di lokasi kegiatan.

Salah satu daya tarik utama dalam instalasi ini adalah penerapan teknologi aerasi modern pada kolam perikanan terpal. Dr.Eng. Henry Kasmanhadi Saputra, S.Pi., M.Si., IPU., dosen IPB yang memandu langsung penyiapan kolam, menerangkan bahwa mesin nanobubble berfungsi menjaga kestabilan oksigen terlarut dalam air.

“Sistem ini dirancang agar sirkulasi air kaya akan oksigen tanpa menimbulkan bau menyengat ke pemukiman warga. Menariknya lagi, air kolam yang kaya unsur hara ini dialirkan kembali sebagai nutrisi alami untuk menyiram tanaman hortikultura secara berkelanjutan,” jelas Henry.

Tak hanya perikanan dan tanaman, aspek pengolahan limbah menjadi fokus penting untuk melengkapi siklus pertanian terpadu. Agief Julio Pratama, S.P., M.Si., dosen dari Prodi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian IPB, mendampingi anggota KWT dalam merakit unit bin composter serta pengolahan Pupuk Organik Cair (POC).

“Melalui unit dekomposisi tertutup ini, sisa hasil panen sayuran dan kotoran ternak diolah kembali menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi. Dengan sistem sirkular, kelompok tani tidak lagi bergantung pada pupuk anorganik dari luar sehingga mampu mandiri secara produksi,” pukas Agief.

Kegiatan penataan demplot berlangsung semarak dan penuh kehangatan. Para anggota KWT Ciharashas tampak antusias berdiskusi, bahu-membahu menanam bibit hortikultura seperti pakcoy, selada, dan cabai, hingga menyiapkan media kolam serta komposter.

Pemerintah setempat memberikan apresiasi tinggi atas aksi kolaboratif ini. Sekretaris Lurah Mulyaharja, Taufik Hidayat, yang hadir mewakili pihak kelurahan bersama Lurah Muslim Yuliantono, S.Sos., mengaku bangga atas semangat warga.

“Kehadiran demplot percontohan ini membuktikan bahwa lahan pekarangan di Mulyaharja dapat disulap menjadi kawasan produktif bernilai ekonomi tinggi. Kami berharap demplot ini terus dirawat dan menjadi model unggulan yang siap ditularkan ke seluruh RW di Mulyaharja,” ungkap Taufik.

Hal senada diutarakan oleh Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) Kelurahan Mulyaharja, Agus Faisal. Menurutnya, kolaborasi keilmuan akademik IPB dan ketekunan warga menjadi modal penting tercapainya kemandirian pangan di tingkat kelurahan.

Rasa syukur mendalam dirasakan oleh seluruh anggota kelompok tani. Ketua KWT Ciharashas, Ibu Umi, mengungkapkan bahwa keberadaan demplot IFS meningkatkan motivasi anggota untuk makin aktif berkebun.

“Kami sangat bersyukur lahan kami kini tertata rapi dalam sistem terpadu. Kehadiran demplot ini memotivasi kami untuk semakin aktif mengelola kebun kelompok setiap hari. Kami berkomitmen menjaga, merawat, dan mengembangkan fasilitas ini agar memberikan manfaat ekonomi nyata bagi keluarga,” tegas Ibu Umi.

Rangkaian kegiatan penerapam demplot IFS ini ditutup dengan sesi foto bersama di area percontohan, menandai langkah awal mewujudkan kawasan pertanian perkotaan (urban farming) yang mandiri, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi di Kota Bogor. (adi/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *