Bogor, pelitabaru.com – Bagi banyak anak, sekolah menjadi tempat untuk belajar sekaligus menumbuhkan mimpi tentang masa depan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu dirasakan oleh anak-anak yang tumbuh di keluarga pemulung.
Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka sering dihadapkan pada dilema antara tetap bersekolah atau membantu orang tua mencari penghasilan. Akibatnya, pendidikan kerap tidak lagi dipandang sebagai jalan untuk meraih cita-cita, melainkan menjadi pilihan yang harus dikorbankan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Kondisi tersebut membuat banyak anak menerima pekerjaan orang tuanya sebagai satu-satunya masa depan yang mungkin mereka jalani. Kesempatan untuk mengenal potensi diri, mengeksplorasi cita-cita, maupun melihat berbagai pilihan profesi menjadi semakin terbatas.
Dampaknya, orientasi masa depan anak menjadi semakin sempit dan mereka kesulitan membayangkan kehidupan yang berbeda dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mahasiswa IPB University menghadirkan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) bertajuk HEROISM.
Program ini bertujuan membantu anak-anak pemulung membangun orientasi masa depan melalui pendekatan Self-Regulated Learning berbasis Possible Selves, sehingga mereka mampu mengenali potensi diri, mengeksplorasi berbagai pilihan profesi, dan menyusun langkah nyata untuk meraih cita-cita.
“Program HEROISM bermitra dengan Paguyuban Rumah Belajar Anak Cimangir Ilir yang berlokasi di Kampung Cimangir Ilir RT 02 RW 04, Desa Dukuh, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor,” kata Wafa Nur Azizah, tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) IPB University dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/7/2026).
Lebih lanjut Wafa memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sebanyak 57,7 % penduduk Indonesia bekerja di sektor informal, termasuk sebagai pemulung.
“Di Kampung Cimangir Ilir sendiri, sekitar 90 orang tua berprofesi sebagai pemulung. Kondisi tersebut membuat anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memandang pekerjaan sebagai pemulung sebagai pilihan yang paling realistis. Tekanan ekonomi keluarga juga mendorong sebagian anak lebih memikirkan bagaimana memperoleh penghasilan dibandingkan melanjutkan pendidikan, sehingga ruang untuk mengeksplorasi masa depan semakin terbatas,” bebernya.
Sebagai solusi, lanjut Wafa, HEROISM mengintegrasikan pendekatan Self-Regulated Learning dari Zimmerman dan Schunk dengan teori Possible Selves dari Markus dan Nurius. “Melalui pendekatan ini, peserta didampingi untuk mengenali kemampuan dirinya, membayangkan masa depan yang diharapkan, memahami masa depan yang ingin dihindari, serta menyusun tujuan dan strategi untuk mencapainya,” sebutnya.
Program ini, kata Wafa, menyasar 15 anak pemulung berusia 8–13 tahun, yang terdiri atas tujuh anak laki-laki dan delapan anak perempuan. Pelaksanaan HEROISM dimulai dengan sosialisasi program kepada mitra, dilanjutkan dengan pre-test dan Training of Trainers (ToT) bagi pengurus Paguyuban Rumah Belajar Anak Cimangir Ilir.
“Kegiatan ToT bertujuan membekali mitra agar mampu melanjutkan proses pendampingan secara mandiri setelah program selesai,” urainya.
Selanjutnya, peserta mengikuti empat subprogram yang disusun secara bertahap. HERO ASA membantu anak mengenali potensi, minat, dan cita-cita melalui pengisian Kartu Asa, menggambar identitas diri, berbagi cerita, serta pendampingan bersama orang tua. Tahap ini menjadi ruang awal bagi anak untuk menyadari bahwa mereka memiliki banyak kemungkinan masa depan.
Selanjutnya, Pada HERO AKSI, peserta diajak mengeksplorasi berbagai profesi melalui video inspiratif, roleplay, pengisian Kartu Misi, serta pembuatan gantungan kunci bertema profesi impian. Berbagai aktivitas tersebut memperluas wawasan peserta mengenai pilihan karir yang dapat diraih melalui pendidikan dan usaha.
Proses kemudian dilanjutkan pada HERO RASA, yaitu tahap refleksi diri melalui pengisian lembar citra diri, presentasi hasil refleksi, Kartu Refleksi, dan Kartu Harapan Masa Depan. Pada tahap ini, peserta diajak memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu jembatan penting untuk mewujudkan impian mereka.
Sebagai penutup, HERO KARSA membimbing peserta menyusun Life Map, membuat Kartu Komitmen, mendeklarasikan komitmen, dan mengikuti post-test. Melalui tahap ini, anak tidak hanya memiliki mimpi, tetapi juga rencana nyata yang ingin mereka capai di masa depan.
“Agar program ini berkelanjutan, tim HEROISM menjalin kolaborasi bersama akademisi, pemerintah, komunitas, dan media juga menjadi bagian penting agar dampak program dapat terus dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Melalui HEROISM, tim mahasiswa IPB University berharap anak-anak pemulung tidak lagi memandang keterbatasan ekonomi sebagai batas bagi masa depan mereka. Dengan mengenali potensi diri, berani mengeksplorasi berbagai peluang, dan memiliki orientasi masa depan yang lebih jelas, mereka diharapkan mampu melihat bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas di ruang kelas, melainkan jalan untuk membuka kesempatan hidup yang lebih baik. (fuz)












