Jakarta, pelitabaru.com – Hidup makin sulit. Namun, masyarakat menyiasati dengan cerdas dan tidak berbelit-belit. Alhasil, biaya hidup pun kian irit.
Masyarakat mengubah cara belanja menjadi lebih hemat dan selektif.
Hal itu untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan kenaikan harga kebutuhan pokok maupun keperluan hidup lainnya.
Apalagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin jatuh ke level terendah sepanjang sejarah yang menyentuh 17.900-an pada perdagangan di spot antarbank, akhir pekan lalu. Sedikit lagi bisa bertengger di titik psikolgis 18.000 per dolar.
Kondisi tersebut — antara lain — juga membuat menurunnya daya beli masyarakat.
King dan Sahlan menunda perjalanan ke Jepang dalam rangka liburan sekaligus ingin bertemu dengan kawannya, yang aktivis kemanusiaan, di Tokyo.
“Kita tunggu saja sampe rupiah stabil. Bisa jadi rupiah mencari keseimbangan baru di posisi 17.500-an per dolar,” kata Sahlan di Kafe Sembilan, di sudut Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.
“Ya, itung-itung kita turut prihatin dengan situasi ekonomi saat ini. Karena dampaknya juga kena ke masyarakat kecil. Pasti harga gorengan tempe, tahu, dan lainnya akan naik. Soalnya, kedelainya kan masih impor,” tambah King.
“Betul. Orang miskin sampe orang kaya akan terdampak. Yang berduit membengkak biayanya kalo ke luar negeri. Pengusaha juga terganggu baik produksi maupun finansialnya,” tutur Sahlan.
“Jadi kita harus berhemat, kencangkan ikat pinggang lebih ketat lagi!” King dan Sahlan berteriak serempak penuh semangat.
Gampangnya, cara mengartikan pelemahan rupiah saat ini antara lain, disebabkan faktor permintaan dan pasokan dolar yang tidak sebanding.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah memiliki sejumlah jurus yang dapat membuat pasokan dolar di dalam negeri dapat mengimbangi tingginya permintaan.
Salah satunya, dengan kehadiran BUMN Ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) yang mengelola ekspor dalam satu pintu dan akan beroperasi tahun 2027.
BI dan pemerintah juga terus bahu-membahu menjaga agar rupiah tidak terjerembab “ke jurang” lebih dalam lagi.
Gubernur BI Perry Warjiyo telah menaikkan sukubunga acuan BI (BI Rate) ke level 5,25 % pada 20 Mei 2026. Sebelumnya BI Rate 4,75 %. Ini untuk mendongkrak rupiah agar lebih perkasa di mata dolar AS.
Ia memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal menguat mulai bulan Juli 2026.
Super Hemat
Masyarakat yang memiliki tak tik untuk bertahan hidup melakukan penghematan dan selektif dalam berbelanja.
Ini ditandai dengan beralihnya masyarakat menggunakan transportasi umum, membawa bekal sendiri ketika bekerja atau aktivitas di luar rumah, dan memanfaatkan harga promo, hingga lebih bijak mengelola pengeluaran bulanan.
Bahkan, membawa makanan atau minuman sendiri dari rumah, saat ini menjadi gaya hidup yang populer untuk menekan biaya jajan harian.
Namun, situasi dan kondisi tersebut berdampak di sektor bisnis dan ritel yang mulai merasakan dari tren ini.
Pelaku usaha di bidang tersebut kini lebih mengandalkan inovasi, seperti diskon khusus dan kolaborasi komunitas untuk menarik perhatian konsumen yang semakin hemat.
Menyiasati tren pekerja dan pelajar yang membawa bekal sendiri, pedagang kini beralih ke model bisnis yang lebih adaptif dan efisien.
Penjual makanan tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang ke warung, melainkan memutar strategi agar tetap bisa meraup cuan.
Antara lain melalui sistem pre-order (PO) dan corporate catering, yakni mengubah target dari penjualan eceran menjadi penyedia katering makan siang harian untuk karyawan di gedung perkantoran atau komunitas tertentu dengan harga grosir yang lebih terjangkau.
Selain itu, dengan menjual menu setengah matang (frozen food).
Membuka lini usaha lauk pauk siap olah yang bisa dibeli dalam jumlah banyak (stok) oleh konsumen untuk dimasak sendiri di rumah atau dipanaskan di kantor.
Kemudian, menawarkan promo bundling dan voucher. Memberikan paket hemat untuk berdua atau berkelompok, serta program loyalitas (misalnya: beli 5 kali, gratis 1 porsi) untuk mengikat pelanggan agar tetap jajan di luar.
Jurus lainnya adalah fokus pada jajanan pasar dan camilan. Karena makanan berat sering kali sudah dibawa dari rumah, pedagang menggeser fokus berjualan pada kudapan, kopi, atau camilan pendamping yang sulit disiapkan sendiri dari rumah.
Melakukan inovasi model rice bowl atau bento praktis. Menyesuaikan porsi dan harga yang sangat ekonomis sebagai selingan bagi mereka yang terkadang bosan dengan menu bekal rumahan.
Kolaborasi dengan aplikasi pesan-antar. Memaksimalkan penjualan melalui platform daring seperti Gojek atau Grab guna memanfaatkan promo potongan harga (diskon ongkir dan menu) yang disubsidi oleh aplikasi untuk menarik pembeli.
Strategi-strategi tersebut membantu pedagang untuk tetap menjangkau pangsa pasar mereka di tengah penyesuaian gaya hidup masyarakat yang lebih mengutamakan efisiensi finansial. (bang iz)












