Pegiat Lingkungan Jabar Soroti Degradasi Lahan Boponcur

oleh
banner 468x60

Bogor, pelitabaru.com – Degradasi lahan di kawasan Bogor Puncak Cianjur (Bopuncur) menjadi sorotan khusus sejumlah pegiat lingkungan hidup Jawa Barat.

Selain soal meningkatnya debit air, meluapnya saluran, erosi, hingga kerusakan infrastruktur irigasi menjadi pembahasan utama dalam diskusi yang digelar di Cipanas, Cianjur, Jumat (29/5/2026).

banner 336x280

Dalam diskusi tersebut, menurut para aktivis lingkungan, rangkaian kejadian itu bukan hanya kejadian sesaat, tetapi menunjukkan pola yang berulang dari tahun ke tahun.

Wilayah yang berada di kawasan hulu dan memiliki peran penting secara ekologis maupun ekonomi, menghadapi tekanan yang kompleks mulai dari perubahan tata guna lahan, aktivitas ekonomi, hingga tantangan dalam pengelolaan lingkungan.

Ketua Forum Kader Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak (FK3I Regional Gedepahala), Ligar, menyampaikan dari diskusi yang telah dilakukan sebelumnya, muncul kesadaran bahwa diperlukan ruang bersama yang lebih luas untuk menyatukan pandangan lintas pihak, agar dapat memahami persoalan secara utuh dan merumuskan langkah ke depan.

“Tujuan kegiatan diskusi ini untuk mengidentifikasi permasalahan utama lingkungan, membangun kesadaran kolektif terhadap kondisi yang sedang terjadi, menggali gagasan solusi dan langkah bersama yang realistis dan berkelanjutan,” kata Ligar.

Peserta diskusi ini melibatkan berbagai unsur: komunitas lokal pegiat lingkungan, perwakilan pemerintah, pelaku usaha lokal sektor terkait, akademisi, peneliti, dan unsur pers.

“Kita menyatukan perspektif lintas sektor yang meliputi komunitas, pemerintah, pengusaha, akademisi, media,” jelasnya.

Sementara itu, Heri Trijoko, Pegiat Daerah Aliran Sungai (DAS) Jawa Barat, menyampaikan bahwa isu utama yang dibahas adalah perubahan kondisi lingkungan, seperti banjir, erosi, aliran air dengan kapasitas infrastruktur irigasi dan drainase terhadap peningkatan debit air, perubahan tata guna lahan dan dampaknya.

“Pentingnya keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, dan peran masing-masing pihak dalam pengelolaan kawasan menjadi fokus diskusi,” imbuhnya.

Output yang diharapkan dari hasil diskusi berupa peta masalah bersama (shared understanding), poin-poin kesepahaman lintas pihak, dan rekomendasi awal langkah bersama, rencana tindak lanjut dari follow up diskusi dan aksi.

“Diskusi ini bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan fokus pada pemahaman bersama dan solusi,” jelasnya.

Forum diskusi ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa menjaga hulu di Cipanas khususnya, dan di Bopuncur adalah tanggung jawab bersama. Dengan duduk bersama, mendengar, dan memahami, langkah ke depan dapat dibangun secara lebih kuat dan berkelanjutan. (cr1)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *