44 Tahun TMII Tak Setoran ke Negara

Taman Mini Indonesia Indah (TMII). (Foto: Shutterstock)

Jakarta, Pelitabaru.com

Pemerintah mengambil alih Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita. Yayasan yang dibentuk oleh Tien Soeharto pada 1968 itu tidak pernah menyetorkan satu rupiah pun penghasilannya kepada negara. Yayasan yang telah 44 tahun beroperasi itu hingga kini masih dikendalikan anak-anak mantan Presiden Soeharto.

TMII merupakan aset milik negara yang hampir 44 tahun dikelola oleh Yayasan Harapan Kita. Hal itu berdasarkan Keppres Nomor 51 Tahun 1977. Menteri Sekretaris Negara Pratikno menjelaskan pengambilalihan berpatokan pada Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 tentang TMII yang baru saja ditetapkan Presiden Jokowi.

“Jadi atas pertimbangan tersebut, Presiden telah menerbitkan Perpres 19 Tahun 2021 Tentang TMII. Yang intinya penguasaan dan pengelolaan TMII dilakukan oleh Kemensetneg dan ini berarti berhenti pula pengelolaan yang selama ini dilakukan oleh Yayasan Harapan Kita,” kata Pratikno dalam konferensi persnya, Rabu (7/4/2021).

Pratikno juga mengatakan, jika pengambilalihan TMII sudah pembicaraan cukup lama. Selain saran BPK, pengambilalihan bertujuan untuk memberikan optimalisasi pengelolaan aset pemerintah.

“Kami menindaklanjuti rekomendasi dari beberapa pihak terkait termasuk dari BPK. Kami berkewajiban untuk melakukan penataan, memberikan manfaat seluas-luasnya untuk masyarakat dan memberikan kontribusi keuangan untuk negara,” kata Pratikno.

Pratikno memberikan waktu selama 3 bulan bagi pihak pengelola untuk memberikan laporan pertanggungjawaban.

“Dalam waktu 3 bulan, pengelola saat ini harus memberikan laporan pengelolaan kepada tim transisi dan pengelolaan selanjutnya akan dibahas oleh tim transisi,” tandasnya.

Sekretaris Mensetneg Setya Utama menambahkan, alasan mengapa pemerintah baru sekarang mengambil alih setelah 44 tahun dikelola Yayasan Harapan Kita. Menurut dia, pada Januari 2021, BPK memberi rekomendasi bahwa harus ada pengelolaan yang lebih baik dari Kemensetneg terhadap sejumlah aset negara.

Salah satu tujuan pengambilalihan oleh negara adalah meningkatkan kontribusi keuangan dari TMII kepada Negara. Apalagi, selama ini tidak ada setoran ke kas negara dari TMII. “Selama ini tidak ada ke negara,” kata Setya.

Alasan TMII tidak menyetor karena pendapatan mereka minus. Setya enggan merinci masalah ini. Dia menyarankan agar menanyakan langsung pada Badan Pengelola dan Yayasan Harapan Kita selaku pengelola.

“Katanya minus, disubsidi oleh YHK, bisa dikonfirmasi ke Badan Pengelola,” ujarnya.

Setya mengatakan, aset negara lain toh selalu memberi kontribusi kepada negara. Misalnya, GBK atau kawasan Kemayoran. Pendapatan yang diterima selama ini selalu disetor ke kas negara.

“Ada, bentuknya PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak),” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Koordinator Staf Khusus Presiden Jokowi, Ari Dwipayana. Dia membenarkan jika tak ada pemasukan ke negara selama TMII dikelola oleh Yayasan Harapan Kita.

“Setoran ke negara selama ini 0,” ujarnya.

Kabag Humas TMII Adi Widodo mengaku tidak mengetahui pasti terkait pembagian hasil antara pemerintah dengan pihak yayasan. Namun, menurut dia, yayasan yang didirikan Tien Soeharto itu sering menalangi dana untuk gaji pegawai.

“Kalau soal pembagian hasil kita kurang mengetahui itu masalah ke yayasan, ya. Tapi pengelolaan Taman Mini, ya, yayasan, kan, membentuk badan pengelola yang beroperasional sehari-hari,” kata Adi saat dihubungi, Rabu (7/4/2021).

“Setahu saya malah yayasan yang kalau kita kekurangan dana men-support misalnya selama pandemi ini untuk apa namanya, kita kekurangan dana untuk gaji karyawan itu, ya, selama ini mereka yang membantu kita,” tambahnya.

Setelah pengelolaan TMII diambil alih pemerintah, Adi mengaku masih belum mengetahui bagaimana nasib karyawan nanti. Namun yang pasti, karyawan akan tetap bekerja seperti biasa selama masa transisi yang dijadwalkan selama 3 bulan itu.

“Kita belum tahu, kita nunggu hasil dari tim yang dibentuk dari Kemensetneg bentuknya seperti apa, terus karyawan bagaimana itu kita belum tahu. Tapi selama masa transisi tuh kita bekerja seperti biasa,” pungkasnya.

Yayasan Harapan Kita selama bertahun-tahun memang lekat dengan keluarga Cendana. Dilihat dari situs tamanmini.com, masih ada anak-anak Soeharto yang menempati posisi di manajemen. Putra Soeharto, Bambang Trihatmodjo menjadi Pembina yayasan. Kemudian, Siti Hardiyanti Indra Rukmana alias Tutut menjadi Ketum Yayasan Harapan Kita.

Anak Soeharto yang lain, Sigit Harjojudanto juga menjadi ketua yayasan ini. Sementara itu, suami Tutut, Indra Rukmana menjabat sebagai Ketua Pengawasan Yayasan Harapan Kita. (net/bil)

Tags: , ,