Dipungli Puluhan Juta Rupiah, Teras Surken ‘Sakaratul Maut’

Bogor, Pelitabaru.com

Teras Suryakencana (surken) Jalan Suryakencana Kota Bogor, mulai nampak layu sebelum berkembang. Ya, sentra kuliner yang digadang-gadang bakal jadi ikon baru pariwisata di Kota Bogor ini sedang ‘sakaratul maut’. Sepi pembeli membuat satu persatu pedagang pun pergi.

Sedangkan mereka (pedagang/pelaku UMKM lainnya, red) yang hendak mengisi terganjal dengan harga sewa yang begitu tinggi. Bukankah lapak tersebut tersedia gratis Pak Wali?

Sudah hampir setahun lamanya wajah Gang Bata di bilangan Surken, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, berubah. Pemandangan kumuh, jorok dan bau tak sedap telah sepenuhnya raib bergantikan sarana berjualan modern yang rapi nan bersih.
Kehidupan di Jalan Bata memang tak lagi sama pasca Wali Kota Bogor Bima Arya mengubahnya menjadi sebuah sentra wisata.

Sejak diresmikan 27 Agustus 2020, keberadaan Teras Surken tak henti menjadi bahan perbincangan. Bima bahkan kerap membanggakan spot wisata kuliner terbarunya itu menjadi salah satu contoh keberhasilan pemerintauannya dalam penataan wilayah dengan menggunakan kebijakan relokasi.

Siapakah yang direlokasi ke Teras Surken? Mereka yang direlokasi merupakan pedagang-pedagang kuliner yang semula berjualan di trotoar Jalan Surken.

Selebihnya adalah pelaku UMKM yang tercatat di Dinas Koperasi dan Usaha Mik­ro Kecil Menengah (UMKM) Kota Bogor. Khususon pemilik menu kuliner khas alias legendaris kota hujan.

Bima juga berulang kali menyebut bahwa fasilitas kios yang tersedia di teras surken dapat diakses secara gratis.

Seiring berjalannya waktu, segala informasi positif terkait teras surken sampai juga ke telinga Jaka (bukan nama sebenarnya).

Kebetulan, Jaka merupakan salah satu pedagang kuliner di jalanan pecinan yang tak kebagian lapak di teras surken. Akan tetapi ia tak mempersoalkannya lantaran namanya masuk ke dalam waiting list dinas koperasi dan UMKM sebagai calon pedagang selanjutnya.

Memasuki akhir 2020, Jaka yang sudah puluhan tahun berjualan soto mie itu mendapati kurang lebuh sepuluh dari total 38 kios yang ada di teras surken telah tutup ditinggal penjualnya. Dengan girangnya ia lantas mengabari dinas koperasi dan UMKM agar dirinya diperkenankan untuk mengisi salah satu kios. Namun apa yang ia dapatkan rupanya tak sesuai harapan. Bahkan sangat jauh berbeda dari yang gencar disuarakan wali kota.

Pada awalnya, Jaka diminta pihak dinas koperasi dan UMKM untuk mendaftarkan diri ke Perumda Pasar Pakuan Jaya yang notabene merupakan pihak pengelola teras surken. Pria berusia 50 tahun ini kemudian mengikuti arahan tersebut.

“Saat itu di lokasi (Teras Surken) saya berjumpa dengan seorang yang mengaku pihak Perusahaan Umum Daerah Pakuan Jaya (Perumda PPJ) Kota Bogor berinisial P,” ujar Jaka.

“Saya sempat kaget ketika si oknum tersebut menawarkan lapak Teras Surken dengan biaya awal Rp 60 juta. Itu belum retribusi dan biaya pengelolaan kebersihan dll setiap bulannya,” sambung Jaka.

Jaka sempat menawar harga sewa yang diberikan P kepadanya. Namun penawaran itu sia-sia. Sebab P justru mempertunjukan salah satu kios yang harga sewanya lebih tinggi.

“Oknum itu mengatakan bahwasanya setiap tempat di Teras Surken itu nilai jual awal sekitar Rp 60 juta – Rp 100 juta.”

Usai tawarannya ditolak mentah-mentah, Jaka mengaku sempat rela hendak membayar dengan cara menyicil pungutan tersebut. Tapi hal itu urung dia lakukan lantaran ia merasa ada yang tak beres saat P menjabarkan teknis pembayarannya.

“Untuk pembayarannya tidak langsung dengan dinas terkait atau Pemkot Bogor, melainkan lewat oknum tersebut yang mengaku pihak Perumda PPJ. Bahkan nomor rekening yang diberikan bukan rekening perusahaan,” jelasnya.

“Ini sangat mencurigakan. Yang saya tahu, Teras Surken itu programnya Pak Wali Kota dalam penataan kota bukan bisnis murni. Ini sangat saya sayangkan, apalagi dia membawa-bawa nama instansi Perumda PPJ,” tambahnya.

Kenyataan itu membuat Jaka mengurungkan niatnya untuk mengisi kios di Teras Surken. Redaksi kemudian mengkroscek pernyataan Jaka dengan pedagang yang saat ini masih berjualan di teras surken. Dan benar saja, sejumlah pedagang pun harus melewati hal yang sama.

“Saya membayar biaya untuk membeli tempat di sini. Waktu pembayarannya saya lupa. Pastinya sebelum tempat ini diresmika . Saat itu saya bayar sekitar Rp 35 juta,” ungkap salah satu pedagang yang meminta identitasnya disembunyikan.

Si pedagang tersebut juga mengaku harus berurusan dengan P diawal ia hendak berjualan di teras surken.

“Dana yang saya bayarkaan nanti kata si oknum tersebut untuk petinggi di Perumda PPJ,. Dan oknum tersebut mengaku dekat dengan petinggi Pemerintah Kota Bogor,” ujar Sumber yang ketika ditemui redaksi merasa sangat takut identitasnya diketahui jajaran direksi Perumda PPJ.

“Saya mohon identitas saya jangan diungkap. Saya takut ada apa – apa dengan usaha saya nanti di Teras Surken,” tegasnya saat menyudahi obrolannya dengan awak redaksi belum lama ini.

Pantauan redaksi pada akhir pekan lalu, kondisi teras surken kian mengalami kemunduran. Jumlah kios yang tutup semakin banyaK. Sekitar 12 kios yang masih buka saat ini pun bukanlah penyaji menu kuliner legendaris.

Dikonfirmasi terkait adanya pungutan liar ini pihak direksi, belum banyak menanggapi. Hanya saja dalam beberapa kali kesempatan, Direktur Operasional (Di­rops) Perumda PPJ Kota Bogor, Denny Ari Wibowo menyatakan, Teras Surken merupakan kerja sama an­tara pihaknya bersama Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bogor.

Menurutnya, 38 pedagang kuliner yang menempati Te­ras Surken berasal dari peda­gang kuliner yang memang sudah berjualan lama. Ia juga memastikan lapak di sana gratis tanpa dipungut biaya apa pun, baik oleh Dinas Ko­perasi dan UMKM maupun Perumda PPJ Kota Bogor se­bagai pengelola.

“Pedagang kuliner kita tata dan kita pusatkan di sana. Tidak ada biaya sewa lapak ataupun sewa tempat. Se­muanya gratis. Paling hanya biaya kebersihan, listrik dan keamanan. Itu pun besaran biayanya masih kita kalkula­sikan, karena prinsipnya kami tak ingin memberatkan,” tegasnya. (ega)

pelitaonline

Read Previous

Tanggapi Keluhan Warga, Pemkot Bogor Perbaiki Jalan Provinsi yang Rusak

Read Next

Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa, Mantan Kades Cimacan Belum Ditahan

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *