Bau Busuk Luapan Banjir di Kudus Bikin Warga Pusing

©jatengprov.go.id

Kudus, Pelitabaru.com

Cakupan banjir di Kudus, Jawa Tengah semakin meluas. Hal ini membuat warga yang sebelumnya ingin tetap bertahan akhirnya memilih mengungsi. Bahkan, ketinggian air pun terus naik akibat tingginya curah hujan dalam dua hari terakhir ini.

Kepala BPBD Kudus Budi Waluyo mengatakan, banjir yang melanda Kudus sejak Kamis (5/2/2021) hingga Minggu (7/2/2021) siang terus meluas. Kini tercatat sembilan desa di tiga kecamatan yakni Kecamatan Undaan, Kecamatan Jati, dan Kecamatan Mejobo terendam banjir. Terparah di Desa Jati Wetan yang mencapai 145 cm, sedangkan daerah lainnya rata-rata bertambah tinggi sekitar 20 cm.

“Ketinggian air bervariasi mulai ada 30 cm sampai 145 cm. Intensitas air naik 20 cm,” kata Kepala BPBD Kudus Budi Waluyo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (7/2/2021).

Jumlah warga yang terdampak banjir di tiga kecamatan ada 5.324 KK atau 17.204 jiwa. Sebanyak 2.873 rumah terendam banjir akibat meluapnya Sungai Wulan dan Sungai Juana.

Sementara itu, banjir yang terjadi di Desa Jati Wetan, Kota Kudus dikeluhkan warga setempat. Ini lantaran air banjir yang menggenangi rumah warga itu berwarna hitam dan mengeluarkan bau busuk.

Ketua RT 3/RW 3 Desa Jati Wetan, Munir mengatakan, sejak wilayahnya dilanda banjir warga tersiksa bukan hanya karena rumahnya terendam, namun juga bau busuk dari genang air berwarna hitam pekat.

“Hari ini sih mendingan, waktu pertama banjir dan hari berikutnya warnanya hitam sekali. Baunya pun bikin kepala pusing,” kata Munir.

Dia menyebut sebagian warganya ada yang bertahan di lantai dua rumahnya. Sebagian memilih mengungsi di Balai Desa. Jati Wetan.

“Warga sudah banyak mengungsi di balai desa, tapi juga masih punya saudara bertahan. Yang rumahnya ada lantai 2 ya bertahan di lantai 2,” ujar Munir.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus HM Hartopo membenarkan banjir di Desa Jati Wetan berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau busuk. Terkait hal ini, pihaknya mengaku masih menunggu hasil laboratorium. Menurutnya, sampel air dari banjir itu sedang diteliti oleh Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH).

“Kita belum tahu penyebabnya dari mana. Untuk di sekitar sini, yang terdekat adalah Pabrik Pura. Tapi Pabrik Pura sudah dikontrol terkait pengolahan limbah. Baru ada penelitian dari dinas PKPLH. Untuk uji labnya tidak bisa keluar segera, paling setelah satu minggu baru keluar hasilnya,” ungkap Hartopo. (acs/net)

Achmad Zedun

Read Previous

Diguyur Abu Vulkanik Gunung Raung, Bandara Banyuwangi Ditutup

Read Next

Puncak Diguyur Hujan, Tinggi Air Katulampa Kembali Naik 140 Cm

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *