Bangkrut, 27 Hotel di Badung Bali Dilego

Ilustrasi Hotel

Denpasar, Pelitabaru.com

Bukan hanya pebisnis di Jogjakarta, Jawa Barat dan Jakarta yang mulai melepas asetnya karena sudah tak mampu lagi bertahan di masa pandemi Covid-19. Kondisi serupa juga dialami para pelaku pariwisata di Badung, Bali.

Setidaknya sudah ada 27 hotel yang siap dilepas karena tak kuat lagi untuk menutupi biaya operasional termasuk membayar gaji pegawai.

“Sampai hari ini ada sekitar 27 properti di Badung yang dilego akibat pandemi Covid-19,” kata Ketua BPC PHRI Badung  ujar I Gusti Ngurah Agung Rai Suryawijaya, Minggu (7/2/2021).

Suryawijaya menerangkan ada beberapa persoalan yang membuat pengusaha terpaksa ‘melego’ propertinya. Pertama, pemilik sudah tidak mampu memenuhi kewajibannya, yakni pinjaman bank akibat tidak ada lagi pendapatan.

Kedua, properti juga terancam terbengkalai karena pihak manejemen sudah tidak punya dana lagi untuk maintenance atau perawatan.

Walaupun ada kebijakan relaksasi (perbankan), namun karena kepastian kapan pandemi ini berakhir sehingga  membuat galau para pengusaha jasa penginapan itu.

“Kekuatan lkuiditas pengusaha kan hanya 3 bulan saja. Sekarang tabungan sudah habis, ya tinggal aset saja” kata Suryawijaya.

Selain itu,.sudah tidak ada lagi wisatawan mancanegara yang datang ke Bali lantaran adanya kebijakan pelarangan WNA masuk ke Indonesia. Jumlah wisatawan domestik yang menjadi tumpuan saat ini juga hanya sedikit. Karena itulah okupansi di Bali rata-rata single digit.

“Hanya berkisar 3000 -an orang saja per hari. Jelas masih jauh untuk bisa menghidupkan pariwisata Bali, yang memiliki 146 ribu kamar,” ujarnya.

Suryawijaya berharap agar soft loan Rp 9,9 triliun yang diusulkan Pemprov Bali bisa segera diproses dan direalisasikan. Menurutnya dana tersebut diyakini bisa membantu pengusaha dan pelaku pariwisata Bali untuk bisa bertahan. “Itu jelas sangat diharapkan,” tandasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali  I Putu Astawa tidak menampik adanya penawaran properti atau hotel tersebut.”Wabah Covid-19 membuat pengusaha perhotelan sangat terpukul,” ujar Astawa.

Namun begitu, Disparda tidak memilik data pasti berapa jumlah hotel yang dijual. Namun biasanya penjualan properti dilakukan bagi sesama pengusaha hotel, sehingga tidak dbuka ke publik.

“Kemungkinannya juga hotel atau properti yang dilego itu yang dibangun dari dana pinjaman. Karena kan mereka butuh cash flow,”  jelasnya.

Sedang hotel yang dibangun dengan dana sendiri atau istilahnya uang dingin, termasuk hotel milik BUMN tentu masih aman. Jumlahnya pun sampai saat ini masih banyak.

Astawa menyatakan Menparekraf sedang mengupayakan soft loan bagi pengusaha dan pelaku pariwisata lainnya.

“Semoga cepat berhasil, sehingga pariwisata Bali bangkit kembali. Dan semoga pandemi segera berakhir,” harapnya. (acs/nusabali)

Achmad Zedun

Read Previous

Separuh Jalan Puncak Cianjur Tertutup Pohon Tumbang dan Longsor, Lalin Tersendat

Read Next

Tanah Turun, BMKG Ingatkan Potensi Banjir di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *