Pesawat Sriwijaya Air Tidak Meledak Sebelum Jatuh ke Laut

Tim SAR mengevakuasi potongan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakartra, Minggu (10/1/2021). Foto: merdeka.com

Jakarta, Pelitabaru.com

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memastikan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu tidak mengalami ledakan sebelum jatuh ke laut. Indikasi ini berasal dari bukti temuan puing-puing pesawat yang dihimpun oleh Tim SAR.

“Berdasarkan luas sebaran serpihan menunjukkan bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air. Pesawat Sriwijaya Air tidak ada pecah di udara,” ujar Soerjanto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR, Rabu (3/2/2021).

Menurut data KNKT, tim operasi menemukan puing pesawat berlogo Ri-Yu itu tersebar di wilayah dengan luas 80 meter dan panjang 110 meter. Bangkai pesawat dikumpulkan dari perairan dengan kedalaman 16-23 meter.

Selama masa evakuasi, tim mengumpulkan 68 kantong serpihan kecil pesawat,dan 55 bagian badan pesawat, termasuk kotak hitam berupa flight data recorder atau FDR.

Puing-puing pesawat itu terdiri atas instrumen peralatan di ruang kemudi, bagian roda utama maskapai, bagian sayap maskapai, bagian mesin pesawat, bagian kabin, dan bagian ekor.

“Bagian-bagian ini mewakili seluruh bagian dari depan hingga belakang pesawat,” kata Soerjanto.

Selain memastikan pesawat tidak mengalami ledakan di air, KNKT mengungkapkan bahwa mesin pesawat masih berada dalam kondisi hidup sebelum membentur air. Temuan ini berasal dari analisis terhadap kondisi turbin yang ditemukan selama masa pencarian.

“Turbin rontok yang menandakan bahwa ketika pesawat mengalami impact dengan air, mesin masih berputar,” kata Soerjanto.

Catatan lain menunjukkan bahwa pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tidak mengalami kerusakan signifikan dalam tiga hari sebelum insiden kecelakaan terjadi. Catatan dihimpun sejak 6 hingga 9 Januari 2021.

Sriwijaya Air SJ-182 yang membawa 50 penumpang dan 12 awak pesawat jatuh di Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021. Dalam operasi SAR, tim gabungan menemukan 325 kantong potongan tubuh korban.

Tim SAR telah menghentikan evakuasi terhadap korban dan bangkai pesawat Sriwijaya Air setelah 13 hari pencarian. Operasi dilanjutkan oleh KNKT untuk mencari memori kotak hitam berupa CVR untuk keperluan investigasi. KNKT akan menyelesaikan laporan awal investigasinya dalam 30 hari setelah kecelakaan terjadi. (acs/Tempo.co)

Achmad Zedun

Read Previous

Gegara Tak Dibelikan Sepatu, Suami Tega Bunuh Istrinya

Read Next

Puluhan Karung Limbah APD di Bogor Dibuang Sembarangan, Polisi Cari Pelakunya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *