Polda Sulsel Usut Kasus Jual Beli Pulau Lantigiang

Pulau Lantigiang di Kepulauan Selayar, Sulsel. (Foto: Istimewa/Instagram agungrizki90)

Selayar, Pelitabaru.com

Penyilidikan kasus jual beli Pulau Lantigiang, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel) terus berlanjut. Bahkan, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Merdisyam mengirim tim dari Direktorat Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Sulsel untuk mengusut kasus jual beli pulau itu.

Merdisyam menegaskan, Pulau Lantigiang tidak bisa diperjualbelikan dan tidak bisa dimiliki seseorang karena masuk kawasan konservasi Taman Nasional Taka Bonerate.

“Kalau wilayah konservasi kan tidak bisa dimiliki, apalagi diperjualbelikan,” kata Irjen Merdisyam, Selasa (2/2/2021).

Sebagai langkah awal penyelidikan, lanjut Merdisyam, tim dari Polda Sulsel saat ini tengah berkoordinasi dengan Pemda Selayar terkait kasus jual beli pulau tersebut.

“Kita lagi koordinasi dengan pihak Pemda, kita sedang melakukan pengumpulan baket dan memang nanti kita tindak lanjuti bagaimana hasil dari Pemda setempat, karena itu daerah konservasi, kawasan konservasi,” ujarnya.

Namun demikian, Polres Selayar telah memeriksa 7 orang saksi, termasuk Kepala Desa Jinato Abdullah dan Sekdes Jinato Rustam serta Kepala Balai Taman Nasional Takabonerate.

“Masih dalam penyelidikan, diambil keterangan dulu, pemeriksaan 7 orang, baik kepala, dinas, termasuk kepala balai,” paparnya.

Sebelumnya, wanita pengusaha asal Selayar, Asdianti mengakui membeli lahan di Pulau Lantigiang.

“Saya selaku pembeli LAHAN KEBUN yang terletak di Pulau Lantigiang. Membenarkan memang saya membeli TANAH tapi bukan PULAU,” kata Asdianti.

Asdianti mengaku membeli lahan Pulau Lantigiang tujuannya untuk membangun Water Bungalows (rumah kecil di atas air, red) di tempat kelahirannya yaitu Selayar.

Menurut Asdianti, Pulau Selayar telah menjadi lahan kebun kelapa milik warga bernama Syamsul Alam yang kesehariannya sebagai nelayan.

“Seluruh masyarakat yang ada di Pulau Jinato dan pulau lainnya tau bahwa sahnya yang bercocok tanam dan berkebun itu dulu keluarga pak Syamsul,” tutur Asdianti.

Asdianti juga mengaku menghargai hak masyarakat, utamanya Syamsul Alam yang menurutnya memiliki lahan di Pulau Lantigiang.

Namun terkait izin lokasi, izin pertimbangan teknis serta izin-izin lainnya sudah terbit atas nama PT Selayar Mandiri Utama.

“Misalkan saya tidak membebaskan tanah rakyat dan langsung membangun bungalows. Akan berakibat pun di kemudian hari. Di Sulawesi bilang ‘A’jallo jallo keluargana’,” kata Asdianti.

Kutipan itu adalah kata-kata bahasa Makassar yang bermakna “mengamuk-mengamuk keluarganya”. (acs/net)

Achmad Zedun

Read Previous

Puluhan Hotel di Yogyakarta Bangkrut Akibat Corona, Banyak yang Dijual Obral

Read Next

Bupati Terpilih Sabua Raijua NTT Berstatus WNA, Kok Bisa?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *