Cuaca Buruk, Pesawat Air Asia Tak Bisa Mendarat di Bandara Hanandjoeddin

Ilustrasi hujan lebat disertai petir (Sumber: Tribunnews.com)

Jakarta, Pelitabaru.com

Pesawat Air Asia QZ 712 rute Jakarta-Tanjung Pandan terpaksa putar arah dan kembali ke bandara semula. Hal itu karena peswasat tersebut tak bisa mendarat di bandara HAS Hanandjoeddin, Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (28/1/2021).

Dikutip dari situs flightradar24.com, pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 12.00 WIB. Pesawat itu dijadwalkan mendarat di Bandara Tanjung Pandan, Belitung pada pukul 12.50 WIB.

Namun, pesawat tersebut gagal mendarat di bandara tujuan sehingga berputar kembali ke Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

“Tadi dilaporkan (dari Tanjung Pandan) pilotnya memutuskan untuk kembali ke bandara Soetta,” ujar Sekretaris Perusahaan AirNav Indonesia, Rosedi, Kamis petang.

Berdasarkan pengamatan di flightradar24.com diketahui setidaknya pesawat tersebut sempat enam kali berputar di langit Pulau Belitung sebelum memutuskan kembali ke bandara Soetta.

Rosedi mengatakkan, pesawat tersebut sempat berputar sekitar 20 sampai 30 menit di langit Belitung. Masing-masing putaran memakan waktu 4 sampai lima menit.

“Di sana sedang hujan lebat sekali. Jarak pandang tidak memenuhi syarat untuk mendarat. Jadi kembali ke Soekarno Hatta, itu keputusan pilot,” terang Rosedi.

Saat dihubungi tersebut, bahwa pesawat tersebut belum terbang kembali ke Tanjung Pandan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Indonesia (94 persen dari 342 Zona Musim) saat ini telah memasuki musim hujan. Dalam keterangannya kemarin, analisis BMKG menunjukkan kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

“Kondisi tersebut diperkuat oleh aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin di wilayah Indonesia,” demikian keterangan BMKG.

Selain itu, munculnya pusat tekanan rendah di Australia bagian utara mendorong terbentuknya belokan maupun pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang mengakibatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan INTENSITAS LEBAT yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi. (acs)

pelitaonline

Read Previous

Ketua DPRD Desak Satgas Covid-19 Hentikan Syuting Sinetron Ikatan Cinta II

Read Next

Satpol PP Tegur Aktivitas Syuting Sinetron Ikatan Cinta II

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *