Fenomena Gempa Sulbar Tak Lazim dan Aneh, BMKG Imbau Warga Waspada

Jakarta, Pelitabaru.com

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menilai gempa di Mamuju-Majene, Sulawesi Barat fenomena aneh dan tak lazim. Pasalnya, gempa kuat di kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dengan magnitudo 6,2 mestinya diikuti gempa susulan.

Akan tetapi, hasil monitoring BMKG menunjukkan jumlah gempa susulannya tercatat sedikit dibandingkan gempa lain sebelumnya dengan kekuatan hampir sama. Hal itu memunculkan pertanyaan, apakah gempa sudah berakhir dan normal kembali, atau sebaliknya.

Koodinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, jika mencermati gempa Majene, tampak produktivitas gempa susulannya sangat rendah. Padahal sebaran stasiun seismik BMKG di daerah tersebut sudah cukup baik sehingga gempa kecil pun terekam dengan baik. Namun, hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa gempa Majene ini memang miskin gempa susulan.
Gempa Jumat dini hari adalah gempa ke-32 yang terjadi sejak gempa pertama pada Kamis 14 Januari 2021 siang hari pukul 13.35 WIB dengan magnitudo 5,9.

BMKG membandingkannya dengan gempa kuat di kerak dangkal sebelumnya di tempat lain dengan kekuatan yang sama. Pada hari kedua, jumlah gempa susulannya bisa mencapai 100 kali.

Selain mekanisme gempanya belum tentu sama, BMKG tidak memiliki riwayat Gempa Mamuju-Majene sebelumnya sebagai pembanding kondisi sekarang.

“Fenomena ini jadinya agak aneh dan kurang lazim,” ucap Daryono.

Dia menjelaskan fenomena rendahnya produksi aftershocks di Majene ini bisa jadi disebabkan karena telah terjadi proses disipasi, di mana medan tegangan di zona gempa sudah habis sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal.

Atau justru malah sebaliknya, dengan minimnya aktivitas gempa susulan ini menandakan bahwa masih tersimpan medan tegangan yang belum rilis, sehingga masih memungkinkan terjadinya gempa signifikan nanti.

“Fenomena ini membuat kita menaruh curiga, sehingga lebih baik kita patut waspada,” kata dia.

Pengukuran besaran medan tegangan yang sesungguhnya dan perubahan pada kulit bumi setelah gempa, masih sulit dilakukan. Kajiannya baru bisa dilakukan secara spasial dan temporal.

“Inilah perilaku gempa, sulit diprediksi dan menyimpan banyak ketidakpastian,” kata dia. (acs/net)

Achmad Zedun

Read Previous

Pemprov Sulbar Tak Akan Beri Sanksi yang Enggan Divaksin Covid-19

Read Next

9 Kecamatan di Probolinggo Diguyur Abu Vulkanik

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *