Pemerintah Malaysia Tetapkan Situasi Darurat COVID-19, Begini Penjelasannya

foto : Ilustrasi penyemprotan disinfektan. /Pixabay/Alexandra_Koch

Malaysia, Pelita Baru 

Pemerintah Malaysia mengunumkan situasi darurat sebagai langkah proaktif untuk mengekang, dan menstabilkn kasus harian COVID-19 di Malaysia.

Kasus COVID-19 di Malaysia, kini sudah mencapai empat digit sejak Desember 2020.
Penetapan situasi darurat ini disampaikan Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yasin, Selasa 12 Januari 2021 pagi WIB.

Juru bicara Istana Negara Dato’ Indera Ahmad Fadil Shamsuddin mengatakan Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah telah menerima kedatangan Perdana Menteri Tan Sri Muhyiddin bin Yassin di Istana Negara, sehari sebelum pengumuman situasi darurat

“Sesi pertemuan 45 menit dimulai pada 17.30 sore. Kemarin malam, Tan Sri Muhyiddin bin Yassin mempresentasikan putusan Sidang Kabinet tentang usulan implementasi Deklarasi Proklamasi Darurat,” kata Dato Indera.

Sementara, Al-Sultan Abdullah berpandangan bahwa wabah penyakit menular COVID-19 di negara ini berada pada level yang sangat kritis.

Menurutnta, dibutuhkan Deklarasi Proklamasi Darurat berdasarkan Ayat (1) Pasal 150 UUD Federasi.

“Perlu dicatat bahwa perjanjian ini juga telah memperhitungkan negosiasi Yang Mulia Penguasa Melayu. Persetujuan ini juga mempertimbangkan keamanan pribadi rakyat dan kepentingan negara,” kata dia sebagaimana dikutip dari Antara.

Ini juga didasarkan pada statistik COVID-19 saat ini, terutama kendala fasilitas logistik sesuai negara bagian yang telah dihadirkan selama sesi pengarahan.

Menurut statistik, lima belas rumah sakit COVID-19 mencatat tingkat penggunaan tempat tidur COVID-19 (non-ICU) lebih dari 70 persen.

Di Lembah Klang, penggunaan tempat tidur ICU untuk pasien COVID-19 di Rumah Sakit Kuala Lumpur dan Pusat Medis Universitas Malaya sudah mencapai 100 persen, sedangkan di RS Sungai Buloh 83 persen.

Sedangkan tingkat penggunaan tempat tidur ICU untuk pasien COVID-19 di Perak, Selangor, Melaka, Terengganu dan Sarawak telah melampaui 70 persen.

“Oleh karena itu, Yang Mulia telah memberikan persetujuannya untuk itu.  Proklamasi Darurat dilaksanakan sebagai langkah proaktif untuk mengekang gejala epidemi COVID-19. Yang Mulia juga memberikan persetujuannya untuk periode pelaksanaan darurat ini hingga 1 Agustus 2021 atau hingga tanggal yang lebih awal jika kasusnya terjadi COVID-19 harian positif dapat dikontrol dan diturunkan secara efektif,” katanya.

Sultan Abdullah setuju dengan usulan Pemerintah untuk pembentukan  sebuah Komite Independen yang terdiri dari Anggota Pemerintah, Parlemen dan Oposisi serta ahli kesehatan dan terkait.

“Komite Independen ini akan merekomendasikan kepada Yang Mulia. Jika terjadi implementasi darurat,  ini bisa diakhiri lebih awal,” katanya.(ant/dkw)

tegar tegar

Read Previous

Menhub Minta Pemberian Asuransi Korban Sriwijaya Air SJ 182 Dipercepat

Read Next

9.150 Dosis Vaksin Covid-19 Tiba di Kota Bogor

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *