Pengalaman Taiwan Berhasil Atasi Corona (2-habis)

foto : Wabah virus corona (coronavirus) Covid-19. (Shutterstock)

KTP Jadi Kendali Administrasi yang andal

Masih ingat heboh megakorupsi E KTP yang menyeret elit negeri ini. Andai program nasional terkait E-KTP berhasil penanganan Covid 19 bisa lebih ringkes. Karena apa, sesungguhnya fungsi E-KTP telah mengakomodasi banyak kepentingan. Sebab seluruh data kependudukan bisa dilacak di sana. Dengan begitu penanganan terkait hal hal yang dialami pemilik KTP dapat segera dilakukan. Bukan hanya soal administrasi kependudukan, namun rekam medis, riwayat penyakit, dan bahkan mobilitas si empu KTP dapat dilacak. Luas biasa!
***

Kartu Tanda Penduduk lazimnya disebut KTP bukan barang baru bagi kita. Hanya saja kita sering alpha, sehingga bepergian tidak membawa KTP. Meski kejadian semacam itu kini jarang terjadi, tetapi sekali waktu sering kita alami. Nah, ini yang beda di Taiwan. Jangan sekali kali kartu identitas ini terlupa, seperti tidak dibawa, atau ketinggalan saat bepergian.

Karena dampaknya bisa membuat kita menghadapi jalan buntu. Di Taiwan budaya disiplin ini sudah menjadi habit, alias kebiasaan mendasar. Artinya, ke mana pun kita pergi, tak boleh lupa bawa KTP. Sekadar beli masker saja, kita dituntut untuk menunjukkan KTP. Hebatanya lagi, kebutuhan yang kita beli terdata, atau terecord di database yang kita punya.

Karenanya kita tidak bisa main akal akalan. Data itu melalui jaringan IT terkonek di seluruh Taiwan. Hal ini tampaknya sepele, namun melacak rekam medis, dan riwayat penyakit yang kita alami akan segera terlacak. Jangankan kena Pandemi Corona, apa pun riwayat sakit yang kita pernah alami otomatis akan tersajid rekam mediknya.

Melalui sandaran data base KTP inilah, Taiwan mudah saja mendetek atau melakukan penanganan warganya yang ditengarai terpapar oleh Covid 19. Karenanya mereka percaya diri saja tidak melakukan lockdown. Karantina total seperti yang dilakukan beberapa negara sama sekali tidak dilakukan oleh Pemerintah Cinta daratan ini.

Tentu langkah langkah preventif dilakukan, tetapi sifatnya masih wajar. Januari lalu ketika Covid 19 merebak di Wuhan, Taiwan cukup memperpanjang liburan untuk sekolah dan perguruan tinggi. Mereka baru masuk atau aktif kembali untuk menjalani kegiatan kuliah dan belajar mengajar mulai Maret.

Langkah ini fektif buat membatasi gerak. Jadi dalam waktu 2 bulan, yakni mulai Januari – Februari cukup bagi mereka untuk menguasai serta mengkonsolidasi keadaan.

Catatan lain yang perlu saya sampaikan di sini, pemerintah memegang kendali cukup kuat. Pemerintah dalam hal ini pusat memegang penuh kendali terkait mengatur hari kerja dan jadwal kegiatan belajar. Artinya kebijakan pemerintah diikuti dan ditaati tanpa kecuali.

Berkat kendali kebijakan seperti itulah Taiwan sukses meredam gejolak Pandemi Covid 19. Secara statistik capaian itu luar biasa. Bayangkan negara yang jaraknya tidak lebih dari 150 KM dari Wuhan, kemudian tingkat lalu lintas arus barang manusia yang begitu tinggi, tetapi mereka yang terpapar sangat kecil jumlahnya.

Artinya, kata kunci menghadapi Covid 19 selain peran pemerintah, disiplin masyarakat juga sangat mendukung. Harus diakui warta Taiwan telah memiliki etos tersebut cukup kuat. Begitu ada wabah mereka tahu apa yang seharusnya dilakukan, mengisolasi diri, kurangi aktivitas, dan terus pantau kesehatan. (Semiarto Aji Purwanto-jay)

suadm

Read Previous

Setelah Desak Anies Karantina Wilayah, Bupati Bogor Sekat Jalur Puncak

Read Next

WNI Baru Kembali Dari Luar Negeri Wajib Isolasi Mandiri 14 Hari

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *